Revitalisasi Kota Tua: Konsep TOD, Kawasan Rendah Emisi, hingga Trem Listrik

Friday, 19 June 2026

Kota Tua merupakan salah satu ikon kota Jakarta yang merepresentasikan peninggalan budaya masa kolonial belanda pada abad ke-15 dan ke-16 di Indonesia. Pada tahun 2015, pemerintah menetapkan kawasan ini sebagai cagar budaya sehingga renovasi dan perbaikan hanya dilakukan untuk mempertahankan struktur bangunan tetapi tidak mengubah fasad dan suasana dari kawasan tersebut.

Meski begitu, Kota Tua juga perlu mengikuti tren pembangunan di perkotaan yang berkembang seiring kemajuan teknologi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pengelola kawasan ini telah menyiapkan beberapa rencana pengembangan yang akan rampung pada tahun 2029, seperti berikut, 

  •  Kota Tua sebagai Transit Oriented Development (TOD)

Sebelum revitalisasi, Kota Tua sudah memiliki transportasi massal sejak tahun 1925 yaitu Commuter Line atau KRL. Selain itu, terdapat juga transportasi publik lainnya seperti Metro Mini dan lain sebagainya yang berbentuk bis. Hingga tahun 2004, Transjakarta Koridor I (Blok M-Kota) mulai beroperasi dengan konsep Bus Rapid Transit (BRT) yang memiliki pemberhentian lebih teratur.

Penetapan Kota Tua sebagai kawasan TOD ditandai dengan pengembangan MRT Jakarta Fase 2A (Bundaran HI-Kota) yang salah satu pemberhentiannya berada di dekat Stasiun Kota. Fase ini direncanakan akan beroperasi pada tahun 2029. Di samping itu, PT MRT Jakarta selaku pengelola kawasan TOD akan meningkatkan fungsi kawasan termasuk infrastruktur pendukung, tenancy mix dari sektor ritel, dan juga aktivasi bangunan eksisting di kawasan tersebut.

  • Kota Tua sebagai Low Emission Zone (LEZ)

Low Emission Zone adalah kawasan rendah emisi yang diberlakukan untuk menekan angka emisi udara yang disebabkan oleh sektor transportasi darat atau kendaraan bermotor. Penerapan kawasan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas udara di area perkotaan yang padat bangunan dan tinggi emisi. 

Pada tahun 2021, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Kota Tua sebagai salah satu lokasi percontohan untuk penerapan LEZ. Sebesar 140 ribu meter persegi ditetapkan sebagai LEZ di Kota Tua. ITDP Indonesia melakukan evaluasi terhadap percontohan tersebut dengan output berupa rekomendasi penerapan LEZ di Jakarta. Menurutnya, percontohan di Kota Tua masih sangat kecil sehingga kualitas udara hanya meningkat pada skala kawasan saja dan tidak begitu berpengaruh pada skala kota. Secara garis besar, penerapan percontohan LEZ ini lebih mendekati konsep low-traffic neighbourhood atau limited traffic zone

Rekomendasi arah kebijakan dari ITDP mencakup perluasan area cakupan LEZ, penerapan kawasan bebas kendaraan secara lebih menyeluruh, integrasi berbagai moda transportasi publik, penyediaan fasilitas parkir, serta peningkatan infrastruktur bagi pejalan kaki. Sejalan dengan rekomendasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jakarta telah menyatakan bahwa penerapan LEZ hingga tahun 2029 akan menjadi bagian dari program revitalisasi kawasan.

  • Trem listrik yang diberlakukan kembali di Kawasan Kota Tua

Sebelum hadirnya KRL dan Transjakarta, trem telah lebih dahulu menjadi moda transportasi yang populer di Batavia, yang kini dikenal sebagai Kota Tua. Jejak sejarah tersebut bahkan kembali ditemukan saat pembangunan MRT Fase 2A, ketika bekas rel trem ditemukan di bawah trotoar kawasan tersebut.

Rencananya, trem akan dihidupkan kembali dengan menggunakan tenaga listrik guna mendukung penerapan LEZ di Kota Tua. Selain itu, moda ini juga akan terintegrasi dengan sistem transportasi publik yang sudah ada, seperti KRL, Transjakarta, dan MRT setelah seluruh jaringan yang direncanakan mulai beroperasi.

Visi dan rencana revitalisasi Kota Tua memang bertujuan untuk menggabungkan unsur heritage tourism dengan aksesibilitas tinggi yang didorong oleh integrasi antarmoda transportasi publik yang ramah lingkungan. Selain memberikan positive impact terhadap lingkungan, kawasan ini diprediksi akan berperan sebagai salah satu roda utama penggerak ekonomi yang ditandai dengan beragamnya aktivitas seperti pariwisata, ritel, dan juga ruang interaksi.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/kota-tua-kawasan-tod-terbaru-di-jakarta/4419

https://www.antaranews.com/

https://green.katadata.co.id/

https://news.detik.com/

https://en.tempo.co/

https://itdp-indonesia.org/

https://www.detik.com/

Share:
Back to Blogs