Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga momen berkumpul. Setelah setahun disibukkan rutinitas, bukber (buka bersama) menjadi alasan untuk kembali duduk di satu meja bersama sahabat lama, rekan kerja, hingga keluarga besar. Banyak orang rela menyisihkan waktu di tengah jadwal padat demi hadir dalam undangan berbuka bersama.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2025, kinerja industri makanan dan minuman menunjukkan kenaikan sepanjang kuartal II 2025. Pertumbuhan sektor ini tercatat mencapai 6,04%, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang berada di angka 5,9%. Peningkatan tersebut tidak lepas dari momentum Ramadan dan Lebaran yang mendorong konsumsi masyarakat secara signifikan.
Selama bulan Ramadhan, permintaan makanan dan minuman meningkat sekitar 30-40% dibandingkan dengan bulan normal. Angka tersebut menunjukkan bahwa Ramadan bukan sekadar momen keagamaan, tetapi juga menjadi motor penggerak penting bagi pertumbuhan sektor kuliner nasional.
Perubahan pola ini berdampak langsung pada industri kuliner. Restoran, kafe, hingga kedai kopi berlomba-lomba menyiapkan promo dan paket khusus Ramadan. Meja-meja yang biasanya lengang pada hari biasa, kini sudah terisi bahkan sebelum adzan berkumandang. Tak jarang, beberapa tempat populer di kawasan strategis seperti pusat perkantoran atau mal besar sudah penuh dengan reservasi sejak awal pekan.
Fenomena ini membuat pemilihan lokasi bukber tidak bisa lagi dilakukan secara dadakan. Banyak orang kini lebih menentukan tempat/lokasi, mempertimbangkan suasana yang nyaman untuk berbincang, dan variasi menu menjadi faktor utama.
Terkait fnb, tempat yang hanya menawarkan makanan dan minuman dan camilan ringan biasanya kurang diminati untuk berbuka. Tempat yang menyediakan pilihan lengkap, mulai dari takjil manis untuk pembuka, hidangan utama yang mengenyangkan, hingga pencuci mulut, cenderung lebih diminati.
Beberapa kafe bahkan menghadirkan menu musiman khusus Ramadan. Paket berbuka dengan harga bundling, seperti hidangan khas Nusantara, atau sajian Timur Tengah kerap menjadi daya tarik tersendiri. Strategi ini tidak hanya menarik pelanggan, tetapi juga menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan hari biasanya.
Selain menu dan ketersediaan tempat, akses lokasi juga menjadi pertimbangan penting. Mengingat peserta bukber biasanya datang dari berbagai penjuru Jabodetabek, memilih tempat/lokasi yang mudah dijangkau menjadi solusi agar semua bisa hadir tepat waktu. Selain itu, ketersediaan lahan parkir yang memadai pun sering kali menjadi penentu. Tidak sedikit orang yang akhirnya membatalkan pilihan hanya karena khawatir kesulitan mencari tempat parkir.
Pada akhirnya, ramainya kafe dan restoran, atau bisnis fnb selama Ramadan menunjukkan bahwa tradisi berbuka bersama memiliki makna lebih dari sekadar makan. Ia menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, berbagi cerita, dan menghangatkan kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.
Momentum ini memberikan peluang bagi usaha lokal untuk tumbuh, khususnya kuliner. Tidak jarang, restoran juga menawarkan souvenir khas Ramadan yang dapat dibeli langsung. Memang, kultur ini menjadi kegiatan tahunan yang berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
Penulis: Farah Septiawardahni
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/rooftop-cafe-strategi-menyiasati-keterbatasan-lahan/1850
https://ottencoffee.co.id/
https://www.runchise.com/
https://www.cnbcindonesia.com/