Pergeseran Tren Menuju Asia Tenggara, Data Center Semakin Kuat di Indonesia?

Friday, 17 April 2026

Selama tiga tahun terakhir, Greater Jakarta mencatat pertumbuhan positif pada subsektor data center, dengan total serapan lahan industri mencapai sekitar 190 hektare. Pertumbuhan ini didorong oleh akselerasi transformasi ekonomi digital, seperti adopsi QRIS oleh pelaku usaha serta pergeseran perilaku konsumen ke platform e-commerce dan layanan digital lainnya.

Tidak hanya terpusat di Greater Jakarta, ekspansi data center juga mulai meluas ke kota-kota lain seperti Batam yang ditandai oleh KEK Nongsa Digital Park dan NeutraDC Nxera (Telkom), serta Surabaya dan Medan yang masih berada pada tahap awal pengembangan.

Potensi pertumbuhan ini semakin menguat seiring meningkatnya ketegangan global. Data center berskala hyperscale mulai mempertimbangkan Asia Tenggara sebagai alternatif lokasi pengembangan. Namun demikian, pergeseran ini tidak sepenuhnya mencerminkan relokasi, melainkan bagian dari strategi diversifikasi geografis untuk memitigasi risiko di masa yang akan datang.

Sebagai contoh, Microsoft tengah mengembangkan fasilitas data center berkapasitas 48 MW di Karawang sebagai bagian dari investasi senilai US$1,7 miliar di Indonesia. Sementara itu, Digital Edge telah berkomitmen untuk mengembangkan kampus data center berkapasitas 500 MW yang siap untuk kebutuhan AI di Bekasi, dengan total investasi mencapai US$4,5 miliar. Fase pertama ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Indonesia memiliki beberapa keunggulan yang dapat menarik investasi data center. Sebagai pasar data digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menawarkan kedekatan dengan end-users yang mendukung kebutuhan latency rendah, artinya akses data yang cepat dan respons instan. Selain itu, ketersediaan lahan yang luas dengan harga kompetitif, khususnya di koridor timur Greater Jakarta seperti Karawang, Purwakarta, dan Subang, menjadi daya tarik utama. Menurut Knight Frank, harga lahan di koridor timur Greater Jakarta saat ini berkisar dari Rp2-3 juta per meter persegi.

Namun, keunggulan tersebut masih dibayangi sejumlah tantangan. Dari sisi energi, Indonesia masih bergantung pada batu bara sebagai sumber utama dengan komposisi sekitar 70:30 dibandingkan dengan energi terbarukan. Kapasitas daya yang tersedia untuk data center juga masih terbatas, sekitar 500 MW, jauh di bawah kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 2,7 GW. Sebagai perbandingan, Singapura telah menyediakan kapasitas hingga sekitar 1,5 GW untuk pengembangan data center.

Selain itu, proses perizinan investasi data center di Indonesia masih tergolong kompleks dan melibatkan banyak tahapan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat investor cenderung berhati-hati dalam merealisasikan investasi.

Pada akhirnya, ketersediaan lahan dan kedekatan dengan end-users bukanlah satu-satunya faktor dalam pengembangan data center. Aspek lain seperti kesiapan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, serta dukungan pemerintah melalui kemudahan perizinan dan insentif juga menjadi penentu utama. Dalam hal ini, penguatan infrastruktur energi serta pembenahan regulasi dan perizinan perlu menjadi prioritas untuk mengoptimalkan peluang dari pergeseran investasi data center yang tengah terjadi di ranah global.

Dalam hal ini, penguatan infrastruktur energi serta pembenahan regulasi dan perizinan perlu menjadi prioritas untuk mengoptimalkan peluang dari pergeseran investasi data center yang tengah terjadi di ranah global.

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/gerak-gerik-pertumbuhan-data-center-dalam-3-tahun-terakhir-di-greater-jakarta/4453

https://teknologi.bisnis.com/
https://industri.kontan.co.id/

https://www.channelnewsasia.com/

Share:
Back to Blogs