Pesatnya perkembangan teknologi digital memposisikan data sebagai aset penting dalam berbagai sektor. Hal tersebut memicu pembangunan data center secara masif sebagai infrastruktur penunjang yang menyimpan, memproses, dan mengelola data dalam skala besar.
Di Indonesia, pertumbuhan layanan ekonomi berbasis digital serta tingginya penggunaan internet secara signifikan meningkatkan kebutuhan akan fasilitas data center yang andal dan berkapasitas besar. Selain itu, komitmen pemerintah dalam mendorong digitalisasi sektor layanan publik melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) turut memperkuat urgensi pembangunan data center dalam negeri guna menjamin keberlanjutan layanan dan keamanan data.
Berdasarkan Global Data Centres Report 2025 yang dirilis oleh Knight Frank, kawasan Asia Pasifik tercatat sebagai salah satu pasar data center dengan tingkat pertumbuhan tercepat yang didorong oleh masuknya investor global, khususnya di tengah tren adopsi Artificial Intelligence (AI). Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan bahwa industri data center di Indonesia berpotensi tumbuh hingga 14% per tahun pada 2028.
Secara eksisting, kawasan Greater Jakarta, khususnya Tangerang, Bekasi, dan Cikarang, telah berkembang menjadi pusat pengembangan industri data center nasional. Hal ini dipengaruhi oleh kedekatan wilayah dengan kawasan industri high-tech dan pasar pengguna terbesar di Indonesia.
Sementara itu, di luar Pulau Jawa, Batam tengah menjadi sorotan dengan aliran investasi terbaru mencapai USD 3 miliar untuk pengembangan data center. Letak geografis yang strategis dan berdekatan dengan rencana pusat ekonomi regional baru, Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ), serta ketersediaan jaringan fiber optic yang sudah terkoneksi menjadikan Batam memiliki keunggulan yang tidak boleh luput diabaikan.
Secara umum, Indonesia memiliki keunggulan ketersediaan lahan dan biaya tenaga kerja yang kompetitif dibandingkan dengan industri data center yang telah mapan seperti Jepang atau Singapura. Namun demikian, Knight Frank Global menyoroti bahwa keandalan dan ketersediaan energi di Indonesia masih menjadi tantangan utama yang berpotensi menghambat investasi di industri data center.
Pada dasarnya, isu ketersediaan energi dan keberlanjutan dapat ditangani secara strategis melalui pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Dengan dukungan regulasi yang adaptif, peningkatan infrastruktur energi dan jaringan komunikasi, serta komitmen terhadap prinsip keberlanjutan, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat data center regional di kawasan Asia Tenggara.
Penulis: Nareswari Dahayu
Sumber:
https://www.knightfrank.com/research/report-library/data-centres-global-report-2025-12054.aspx
https://postel.go.id/
https://www.datacenters.com/
https://www.ekon.go.id/