Singapore, sebagai salah satu negara utama di Asia Pasifik sekaligus negara tetangga Indonesia, memiliki dinamika pasar ritel yang serupa namun tidak sepenuhnya sama dengan pusat perbelanjaan di Indonesia, khususnya Jakarta.
Baru baru ini, Knight Frank Singapore merilis tiga publikasi terkait kinerja sektor retail di negaranya. Mulai dari Singapore Strata Commercial Market Update H2 2025, Singapore Shophouse Market Update H2 2025, dan Singapore Retail Market Update Q4 2025.
Berikut merupakan ringkasan ulasan pasar dari masing-masing segmen retail di Singapore.
Lonjakan ini didorong oleh owner-occupiers yang berupaya menghindari fluktuasi sewa di masa mendatang dan mencari kepastian biaya jangka panjang. Meskipun belum sepenuhnya menjadi tren, penjualan strata ritel telah mencapai puncak siklusnya. Dari sisi tenure, tipe freehold mencatat jumlah transaksi yang lebih besar dibandingkan dengan leasehold, menandakan preferensi kuat terhadap aset dengan kepemilikan jangka panjang. Untuk tahun 2026, prospek pasar diperkirakan tetap stabil dengan nilai transaksi berada di kisaran SGD 500–700 juta, sementara permintaan diproyeksikan tetap terjaga, namun semakin selektif.
Dinamika pasar ruko turut dipengaruhi oleh sektor F&B yang menghadapi persaingan ketat, sehingga sejumlah penyewa mengakhiri masa sewa lebih awal. Selain itu, lokasi prestisius tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga performa shophouse. Ke depan, pasar diperkirakan semakin selektif dengan fokus pada aset freehold atau properti dengan sisa masa sewa panjang. Minat investor diproyeksikan tetap berhati-hati di tengah harga yang berada pada level premium.
Penjualan sektor retail pada Q4 2025 juga meningkat, didukung oleh kunjungan wisatawan internasional yang mencapai 2,8 juta pada kuartal tersebut. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi meliputi barang rekreasi, kosmetik dan perlengkapan mandi, serta produk medis. Tren yang sedang gencar di Singapore adalah ekspansi F&B asal Tiongkok yang tengah mengalami transisi dari mass-market expansion menjadi pertumbuhan yang lebih terukur dan berfokus pada kualitas.
Dengan strategi yaitu relokasi ke lokasi yang lebih prestisius, renovasi gerai, serta peluncuran varian premium. Tak hanya Tiongkok, negara lain seperti Jepang, Korea, dan Amerika Serikat juga menunjukkan adanya aktivitas ekspansi. Berdasarkan sektor, luxury brands, experience-based retail, dan F&B menjadi sektor yang paling tangguh. Sebaliknya, fashion mid-market, department store besar, dan retailer mass-market menghadapi tekanan lebih besar. Salah satu strategi yang diusulkan adalah memiliki proposisi nilai yang jelas serta strategi omnichannel yang efektif.
Pada akhirnya, pasar retail Singapura tahun 2025 menunjukkan adanya pergeseran strategi yang cukup signifikan. Pasar diperkirakan tetap aktif, namun lebih berhati-hati, dengan investor dan retailer yang mengutamakan keberlanjutan bisnis dan kepastian jangka panjang.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://www.knightfrank.com/research/report-library/singapore-strata-commercial-market-update-h2-2025-12639.aspx
https://www.knightfrank.com/research/report-library/singapore-shophouse-market-update-h2-2025-12634.aspx
https://www.knightfrank.com/research/report-library/singapore-retail-market-update-q4-2025-12619.aspx