Tak dapat dipungkiri bahwa online shopping merupakan kegiatan berbelanja yang praktis di tengah era digital saat ini. Mulai dari penawaran ragam pilihan produk, diskon rutin, hingga pengiriman yang cepat membuat masyarakat lebih memilih berbelanja dengan transaksi online ketimbang offline. Akan tetapi, dapat dilihat bahwa banyak mal di pusat perkotaan yang masih ramai dikunjungi, terutama di akhir pekan.
Fenomena ini terjadi karena mal tidak lagi hanya berfungsi sebatas tempat berbelanja. Mal kini menjadi bagian atau ruang lifestyle masyarakat, yaitu sebagai ruang bersosialisasi. Hal ini dapat dilihat dari mal yang mengkombinasikan shopping, dining, event dan entertainment dalam satu tempat. Banyak mal yang kini menarik kunjungan dari ragam tenant F&B kekinian sebagai daya jualnya.
Dengan kombinasi aktivitas tersebut, pengunjung bisa mendapatkan berbagai pengalaman sekaligus dalam satu tempat. Misalnya, pengunjung dapat makan minum, menonton film di bioskop, serta menghadiri acara dalam sekali kunjungan ke mal. Berbagai kegiatan tersebut tentunya tidak bisa digantikan oleh platform e-commerce.
Dengan demikian, mal menjadi destinasi rekreasi keluarga, tempat hiburan, kuliner, hingga pusat event kekinian yang menarik banyak peluang ekonomi. Banyak mal yang sudah mengadaptasi konsep tersebut, dengan tujuan agar bisa beradaptasi di tengah perkembangan teknologi e-commerce.
Jika mal tidak responsif terhadap perkembangan tren lifestyle masyarakat saat ini dan hanya berfokus pada model ritel konvensional, omzet mal tersebut akan lesu. Tak dapat dipungkiri juga banyak pusat perbelanjaan yang kini sepi tenant serta pengunjung. Kebanyakan pusat perbelanjaan yang sepi adalah mal yang masih mempertahankan konsep tradisionalnya, hanya sebagai tempat transaksi offline, hingga akhirnya tergeser oleh e-commerce.
Sebagai kesimpulan, e-commerce menjadi game changer dalam ruang transaksi belanja saat ini, yang cukup mendominasi dan diperkirakan platform ini terus tumbuh di masa depan. Namun, kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, mencari pusat hiburan, dan menikmati pengalaman langsung sebagai makhluk sosial tetap akan ada. Oleh karena itu, mal perlu terus beradaptasi dengan tren dan dinamika perkembangan gaya hidup masyarakat saat ini.
Dalam publikasi yang dirilis oleh Knight Frank Indonesia pada semester satu tahun 2025, Jakarta Retail Market Overview 1H 2025, terungkap bahwa, ritel kelas menengah ke atas di Jakarta mampu beradaptasi mengikuti permintaan pasar, yang berujung pada tingkat resiliensi yang cukup tinggi, ditandai dengan okupansi pada kisaran 91%.
Mal yang mampu beradaptasi bisa menjadi semakin kuat dan prospektif. Hal ini memberi mal peluang tinggi dalam menarik pelaku usaha sekaligus pengunjung. Pada akhirnya, ruang dalam mal tidaklah hilang, hanya bergeser dan terus berevolusi mengikuti kebutuhan dan gaya hidup masyarakat.
Penulis : Grace Olivia
Sumber :
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-1h-2025/4406
https://www.cnnindonesia.com/
https://industri.kontan.co.id/
https://www.suara.com/