Seperti yang kita ketahui, apartemen sewa memiliki target pasar yang lebih niche dibandingkan dengan sektor properti lainnya. Permintaannya cenderung terbatas dan mengikuti karakteristik serta kebutuhan penyewa yang ada di pasar saat ini. Setelah pandemi, sektor ini mengalami stagnasi atau pertumbuhan secara perlahan seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Knight Frank Indonesia dalam Jakarta Property Highlights pada paruh pertama tahun 2026 mencatat bahwa pasokan apartemen sewa tetap, yang berarti tidak ada penambahan unit pada semester ini.
Namun, jika melihat future stock, sektor ini masih memiliki pasokan baru yang akan hadir dalam dua tahun ke depan, yaitu sekitar 872 unit yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta.
Tingkat keterisian apartemen sewa pada semester ini telah mencapai 67%, atau meningkat sekitar 1% dibandingkan semester sebelumnya. Peningkatan ini terbilang masih cenderung stagnan, meskipun menjadi salah satu kenaikan tertinggi dalam satu tahun terakhir, karena tingkat okupansi tersebut belum kembali menyamai kondisi prapandemi. Persebarannya juga cukup merata, dengan area CBD mencatat tingkat okupansi tertinggi dibandingkan dengan area lainnya.
Pada semester ini, sebanyak 30% apartemen sewa telah menaikkan harga sewanya seiring dengan eskalasi biaya secara tahunan dan penyesuaian terhadap kondisi ekonomi. Meskipun demikian, kenaikan harga pada sebagian proyek belum sepenuhnya tercermin pada rerata harga sewa pasar yang cenderung meningkat secara terbatas.
Karakter pasar yang niche atau memiliki target pasar yang spesifik juga menjadi salah satu ciri utama apartemen sewa. Tenant didominasi oleh korporat dan ekspatriat yang sedang memiliki proyek atau bekerja di Jakarta. Sebagian lainnya terdiri atas penyewa lokal yang tengah berlibur atau memiliki kebutuhan tinggal sementara, tenant dari kedutaan besar, serta penyewa dari perusahaan multinasional.
Dominasi penghuni saat ini masih dipegang oleh ekspatriat asal Jepang, Tiongkok, serta Korea Selatan. Untuk area CBD, khususnya koridor Sudirman, kawasan ini menjadi salah satu hotspot bagi pekerja ekspatriat asal Jepang, Tiongkok, dan beberapa negara di Eropa.
Walaupun memiliki target pasar yang spesifik dan diwarnai oleh dinamika geopolitik selama periode ini, minat dari ekspatriat korporat masih menunjukkan resiliensi. Di sisi lain, tren perpanjangan kontrak oleh tenant eksisting turut mendorong peningkatan okupansi.
Ketidakstabilan nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi daya tarik apartemen sewa bagi ekspatriat. Sebagian besar kompensasi ekspatriat masih menggunakan mata uang asalnya atau mata uang yang umum digunakan oleh perusahaan internasional, seperti dolar AS. Kondisi ini membuat perubahan nilai tukar rupiah dapat memengaruhi persepsi harga sewa bagi calon penyewa ekspatriat.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://industri.kontan.co.id/
https://propertynbank.com/
https://validnews.id/
https://indonesiahousing.id/