Pertanyaan tentang siapa yang lebih siap membeli hunian pada 2026, Milenial atau Gen Z, semakin menguat di tengah kenaikan harga hunian yang terus konsisten melampaui pertumbuhan pendapatan.
Milenial kini berada di fase karier yang lebih stabil, sementara Gen Z baru memasuki dunia kerja dengan dinamika finansial yang berbeda. Namun, keduanya menghadapi tantangan utama yang sama, yaitu keterjangkauan.
Data terbaru dari Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial terus meningkat. Data tersebut menunjukkan peningkatan berkisar 0,83% secara tahunan pada triwulan IV 2025, sementara rasio pertumbuhan harga rumah terhadap pendapatan lebih tinggi dari 1, artinya bahwa pertumbuhan harga rumah lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan.
Kondisi ini membuat kepemilikan hunian bergeser dari kebutuhan dasar yang perlu disegerakan menjadi target jangka panjang. Dalam konteks ini, Milenial terlihat lebih siap secara finansial, dengan penghasilan yang lebih stabil dan akses pembiayaan yang lebih luas.
Tekanan biaya hidup di kawasan urban membuat sebagian Milenial berada dalam posisi “cukup mampu membeli, tetapi belum tentu mampu dan nyaman membayar”. Preferensi pun mulai berubah dari pusat kota ke kawasan penyangga yang menawarkan harga lebih terjangkau dengan akses transportasi yang terus berkembang, terutama di kawasan berbasis Transit-Oriented Development (TOD).
Berbeda halnya dengan Gen Z, minat terhadap kepemilikan hunian ada, namun banyak yang memilih menyewa terlebih dahulu. Fleksibilitas, mobilitas kerja, dan keterbatasan pendapatan menjadi faktor utama dalam keputusan tersebut.
Terlepas dari perbedaan preferensi antargenerasi, tantangan fundamental tetap menjadi faktor utama, yaitu kenaikan harga hunian, persyaratan pembiayaan yang ketat, serta literasi finansial yang belum merata menjadi hambatan utama.
Pada akhirnya, Milenial dengan range usia 30-45 tahun mungkin lebih siap dalam memiliki hunian, sementara Gen Z berpotensi menjadi pembeli masa depan dengan pendekatan yang lebih adaptif.
Bagi industri properti, ini menjadi sinyal bahwa strategi ke depan harus cermat, dengan memperhatikan kemampuan membayar, preferensi model hunian, akses sistem pembayaran yang terbuka untuk generasi tersebut, dan pemilihan lokasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan keterjangkauan.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://theconversation.com/
https://www.idntimes.com/
https://konstruksimedia.com/
https://www.fortuneidn.com/
https://www.bi.go.id/
https://www.thejakartapost.com/