Di antara banyaknya pilihan transportasi umum di Jakarta, bus dan kereta menjadi tulang punggung mobilitas dari komuter Jabodetabek. Kedua moda ini jelas berbeda dalam hal moda dan jalur yang dilalui. Bis atau BRT menggunakan jalur khusus atau kerap disebut busway, dan kereta menggunakan rel kereta api sesuai dengan moda-nya (KRL, MRT, LRT Jabodebek, dan LRT Jakarta).
Meskipun BRT berada di jalur yang terpisah dari kendaraan pribadi, aturan lalu lintas pada umumnya, seperti lampu lalu lintas, harus diikuti. Hambatan seperti kendaraan yang nekat memasuki jalur busway, mixed lane di beberapa titik jalur, dan kepadatan lalu lintas di persimpangan menjadi alasan mengapa rail-based transport lebih unggul dalam hal ketepatan waktu jika dibandingkan dengan road-based transport.
Pada tahun 2017, fakta itu berubah seiring adanya perkembangan infrastruktur di masa itu. Jalur layang khusus BRT diresmikan beroperasi yang memberikan keunggulan seperti transportasi jenis kereta. Pengguna jalur ini adalah BRT koridor 13 yang melintas dari Jakarta Selatan yang ditandai dengan Halte Tegal Mampang hingga Tangerang yang ditandai dengan Halte Puri Beta (1 dan 2) dan Halte CBD Ciledug. Proyek jalur layang ini dilakukan oleh empat konsorsium BUMN dan menghabiskan dana sebanyak Rp2,3 triliun dengan periode pembangunan selama lebih dari satu tahun.
Dengan ketinggian 24 meter di atas tanah dan jalur sepanjang 9,3 km, koridor BRT ini telah melayani 4 halte di jalur mixed lane dan 10 halte layang. Keberadaan jalur layang ini sangat menguntungkan bagi layanan koridor 13 karena perjalanan di mixed lane yang berada di antara Halte Petukangan Utara dan Halte Puri Beta yang mengalami perlambatan karena volume kendaraan yang membludak, terutama saat peak hour. Misalnya saja, perjalanan dari Halte Petukangan Utara ke Halte CSW (±7 km) hanya memakan waktu 15–20 menit. Dalam waktu yang sama, jarak tempuh ke Halte Puri Beta hanya sekitar 4 km.
Menurut data resmi BPS DKI Jakarta, koridor 13 berada di peringkat ketiga penumpang terbanyak dengan jumlah 13 juta penumpang dan total pendapatan sebesar 40 miliar rupiah sepanjang tahun 2024. Bahkan, fasilitas Park and Ride yang terletak di Halte Puri Beta selalu penuh setiap harinya. Hal ini menunjukkan permintaan terhadap BRT Koridor 13 ini sangat tinggi, selain Koridor 1 yang merupakan jantung transportasi umum di area perkantoran atau CBD Jakarta.
Keunggulan dari koridor ini yaitu sebagai penghubung antara area bangkitan seperti perumahan di Puri Beta dan Petukangan dengan area tarikan seperti kantor, sekolah, rumah sakit, dan mal yang berada di pusat kota Jakarta. Selain itu, perjalanan transportasi massal dari Tangerang ke Jakarta hanya dilayani oleh sedikit pilihan, yakni BRT Koridor 13 dan KRL Lane Tangerang dengan area cakupan titik transit yang berbeda.
Pada akhirnya, jalur layang bagi koridor 13 ini merupakan pilihan menarik bagi wilayah perkotaan. Meskipun daya tampungnya tidak sebesar daya tampung dari kereta seperti MRT, LRT, dan KRL, BRT dengan jalur layang dapat diprediksi lebih efisien dibandingkan dengan rail-based transport terkait biaya pemeliharaan dan investasinya.
Jalur layang ini juga dapat menjadi opsi bagi daerah dengan keterbatasan lebar jalan untuk kendaraan pribadi. Selain itu, keterhubungan antara kedua daerah dengan fungsi yang berbeda (bangkitan dan tarikan) juga menjadi kunci untuk meningkatkan cakupan jumlah ridership atau penumpang.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://www.tempo.co/
https://megapolitan.kompas.com/
https://jakarta.bps.go.id/
https://www.metrotvnews.com/