Listrik dan Konektivitas Digital: Fondasi High-Tech Industries di Batam dan Singapura

Friday, 18 September 2026

Di tengah masifnya pengembangan infrastruktur berteknologi tinggi (high-tech industries), pusat data, listrik, dan konektivitas digital menjadi komponen utama dalam operasionalnya. Selain membutuhkan lahan, pusat data membutuhkan pasokan listrik yang besar serta koneksi berlatensi rendah untuk mengoptimalkan operasional AI, komputasi cloud, dan berbagai industri digital lainnya.

KEK Nongsa di Batam menjadi salah satu kawasan yang menarik investasi pusat data dengan target pengembangan mencapai 39,9 ha pada tahun 2040. Pusat data hyperscale seperti DayOne, kini beroperasi dengan total kapasitas sebesar 72 MW. Selain itu, terdapat juga beberapa pusat data lainnya seperti BW Digital, Golden Digital Gateway, dan Princeton Digital.

Dalam mendukung kelancaran sistem, Indonesia dan Singapura menjalankan kerja sama bilateral dalam penyediaan infrastruktur pendukung. Terdapat dua rencana yang saling menguntungkan, yaitu pengadaan kabel fiber optik untuk menyalurkan konektivitas dari Singapura dan penyediaan pasokan energi listrik terbarukan dari Batam.

Saat ini, kabel fiber optik bawah laut telah beroperasi di KEK Nongsa sejak Juli 2026. Konektivitas digital langsung dihubungkan dari Changi menuju Nongsa oleh kabel yang bernama Nongsa-Changi Cable (NCC). 

Kabel tersebut memiliki panjang lebih dari 50 kilometer dan terletak di bawah laut, dengan spesifikasi 24 pasangan serat optik. Kabel ini mampu meningkatkan kapasitas konektivitas hingga lebih dari 1,6 petabit per detik dengan latensi super rendah, yaitu kurang dari dua milidetik.

Selama lebih dari dua dekade, Singapura terus mengembangkan infrastruktur layanan internet hingga menjadi salah satu negara dengan fixed broadband tercepat di dunia. Kemampuannya untuk mengunduh dan mengunggah memiliki kecepatan sekitar 280-400 mbps dengan latensi empat milidetik. Di sisi lain, Indonesia belum memiliki jaringan secepat itu.

Dalam konteks kelistrikan, Indonesia akan merencanakan energi baru terbarukan atau EBT yang akan diekspor ke Singapura dengan target kapasitas sebesar 3,4 gigawatt atau setara dengan pemasokan listrik untuk jutaan rumah tangga dan aktivitas properti komersial lainnya.

Menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran atau FITRA, Indonesia dapat meraih keuntungan dari ekspor senilai Rp12-19 triliun dengan produksi listrik tahunan berbasis green senilai 8,9 TWh. Pengembangan fase pertama akan dibangun di Kawasan BBK (Batam, Bintan, Karimun) dengan kapasitas sebesar 600 MW hingga 1,2 GW.

Saat ini, rencana tersebut sudah melalui penandatanganan 26 MoU oleh Danantara, Keppel Electric, dan Sembcorp yang mencakup penguatan hubungan ekonomi, pengembangan kawasan industri dan rantai pasok, perdagangan listrik lintas batas, serta peningkatan konektivitas kedua negara.

Menurut UOB Kay Hian, PT Alamtri Resources Indonesia akan memasok sekitar 0,4 GW listrik dari PLTS beserta sistem penyimpanannya, dengan estimasi belanja modal US$3,2 miliar. Sementara itu, PT Medco Energi Internasional akan mengekspor hingga 600 MW melalui PLTS di Pulau Bulan, Kota Batam.

Rencana ini tidak semata-mata ditujukan untuk ekspor listrik saja, tetapi juga mendukung target nasional dalam RUPTL 2025–2034, yang menargetkan penambahan kapasitas PLTS sekitar 17,1 GW.

Pergeseran menuju high-tech industries memerlukan kesiapan infrastruktur pendukung yang memadai. Kerja sama bilateral ini akan memperkuat posisi Batam sebagai emerging hub yang memiliki potensi untuk bersaing secara global. Ke depannya, Batam akan menjadi salah satu top of mind para investor untuk investasi pusat data di Asia-Pasifik. 

 

Penulis: Jovan Rafkhansa

Sumber:
https://kfmap.asia/blog/nongsa-digital-park-dan-perannya-sebagai-ai-data-center-sektor-properti-bersiap/5281

https://www.bloombergtechnoz.com/

https://indonesiabusinesspost.com/

https://www.datacentermap.com/

https://www.cnbcindonesia.com/

https://jakartaglobe.id/

https://uobkh.com.sg/

https://gokepri.com/

Share:
Back to Blogs