Ritel menjadi salah satu subsektor properti yang menjadi cerminan real market, memberikan gambaran terkait pandangan investor, preferensi konsumen dan kemampuan peritel untuk berinovasi di antara kehadiran investor dan kebutuhan konsumen.
Dinamika pasar ritel memang cukup tinggi saat ini, bahkan Hong Kong saat ini telah berpengalaman dalam ruang ritel dengan praktik Low-Altitude Economy (LAE), seperti yang dirilis oleh Knight Frank Greater China yang menyebutkan bahwa Hong Kong saat ini berencana mengambil peran sebagai hub inovasi dari kegiatan low-altitude economy di Asia Pasifik.
Low-altitude economy adalah kegiatan ritel komersial yang dilakukan pada ketinggian udara rendah, sampai 1000 meter di atas permukaan tanah. Kegiatan ini umumnya menggunakan pesawat tanpa awak atau drone sebagai aktor utama, misalnya untuk layanan antar, memberikan layanan pengamatan terhadap perkebunan atau infrastruktur industri, dsb.
Bahkan di China, beberapa kota telah menjadi benchmark global dalam operasional drone untuk layanan komersial. Misalnya saja di kota Shenzhen, Guangzhou, dan Chengdu. Di Shenzhen, layanan drone digunakan untuk pengiriman makanan dan ritel, dengan bentuk operasional drone yang akan terbang dari drone hub (atap mal/kantor) ke titik drop box, dengan waktu kirim lebih singkat daripada layanan kurir darat.
Dalam prosesnya, konsumen dapat melakukan order via aplikasi dan kemudian memilih jenis pengiriman ‘drone delivery’. Kemudian barang akan dikirim ke kiosk pickup, bukan langsung ke tangan konsumen. Jadi, model layanan drone dalam LAE ini bukan menggantikan kurir, melainkan hybrid last mile (drone dan manusia). Layanan ini umumnya berlaku di wilayah perkotaan.
Sementara itu, LAE juga berlaku di daerah terpencil di China, misalnya, drone yang menghubungkan gudang regional di desa, sehingga menjadi solusi untuk inklusi logistik nasional.
Layanan terbesar LAE di China digunakan dengan pemanfaatan yang cukup tinggi pada sektor industri, misalnya digunakan untuk inspeksi jaringan listrik, monitoring pabrik untuk mendeteksi kebocoran, panas, dll.
Untuk ini, China telah berinvestasi banyak, baik dalam penyediaan infrastruktur maupun regulasi. Sistem manajemen lalu lintas telah dikembangkan sesuai dengan arahan kebijakan yang berlaku.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://www.knightfrank.com.cn/blog/amp/2025/09/17/our-views-on-2025-policy-address?host=www.knightfrank.com.cn
https://apac.knightfrank.com/horizon/content/asia-pacific-real-estate-2026-hunting-for-value-amid-volatility