Setelah pandemi, sekitar tahun 2022, berbagai asa terbentang untuk pemulihan, atau perbaikan kondisi perekonomian nasional, termasuk pemulihan di bidang properti.
Berbagai rencana disusun sebagai peta jalan menuju pemulihan kondisi perekonomian, termasuk kondisi properti nasional. Namun, upaya untuk merealisasikan hal tersebut tidak mudah, butuh kesepahaman antara semua pihak pemangku kepentingan untuk menuju pada titik yang sama.
Pada sektor properti residensial, permintaan hunian vertikal atau apartemen strata diharapkan dapat pulih pasca pandemi. Pertumbuhan permintaan apartemen strata telah mengalami pelemahan sejak akhir tahun 2019, yaitu kondisi sebelum pandemi. Pertumbuhan permintaan juga semakin melemah di tengah pandemi, konsumen memiliki preferensi hunian berbentuk rumah tapak di masa pandemi. Meski Pemerintah telah menerbitkan regulasi terkait insentif PPN DTP (PPN Ditanggung Pemerintah), namun angka permintaan belum berada pada titik yang diharapkan, seperti pada periode tahun 2013.
Sementara itu, pada sektor properti komersial, khususnya perkantoran, pasarnya mulai memasuki fase pelemahan sejak sebelum pandemi. Di masa pandemi, tantangan sektor perkantoran lebih dalam, dengan diberlakukannya WFH (work from home) pada masa pandemi, sehingga terjadi downsizing, dan berbagai efisiensi yang diterapkan oleh perusahaan/occupier. Belum lagi pasokan yang sedang dalam proses penyelesaian konstruksi, terus masuk menambah stok di pasar perkantoran CBD Jakarta, yang saat ini berkisar 7,3 juta meter persegi.
Namun, jika menelaah dinamika pertumbuhan subsektor pergudangan dan industri, maka tercermin asa positif. Kedua subsektor merupakan subsektor yang saling terkait dalam siklus operasionalnya. Kedua tetap memiliki pertumbuhan kuat di masa pandemi, bahkan setelah pandemi berlangsung. Saat ini, di tengah kondisi ketidakpastian global, kedua subsektor ini bahkan terus menguat, dengan rerata pertumbuhan serapan lahan berkisar 14% dalam 5 tahun terakhir. Bukan tanpa upaya yang berarti, namun, pertumbuhan ini diikuti dengan adaptasi dari landlord dalam penyediaan lahan, misalnya saja permintaan lahan yang datang dari sektor data center dan EV-related dalam 5 tahun terakhir, memaksa landlord beradaptasi dengan jenis permintaan dengan basis industri high-technology.
Intinya adalah, harapan pertumbuhan pada setiap subsektor properti akan lebih sehat, dengan pertumbuhan yang bermakna. Tidak hanya pada subsektor yang memang terus tumbuh dalam 5 tahun terakhir, seperti pergudangan dan industri. Tetapi juga pada subsektor yang lain, yang telah melalui berbagai tantangan dan fluktuasi transaksi. Dengan inovasi dan riset pasar diharapkan para pelaku pasar properti mampu beradaptasi menatap pertumbuhan yang lebih sehat dan prospektif di tahun 2026.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://kfmap.asia/research/jakarta-strata-apartment-market-overview-1h-2025/4407
https://kfmap.asia/research/jakarta-cbd-office-market-overview-1h-2025/4388
https://kfmap.asia/research/industrial-market-overview-1h-2025/4369