Performa sektor ritel terus tumbuh kuat, meski tidak terjadi pada seluruh kelas/grade. Pusat perbelanjaan dengan konsep pengalaman (experience-led retail) tengah tumbuh, bahkan menuju pada bentuk ruang yang berbasis sustainability. Ketahanan dari sektor ritel memang patut diperhitungkan, dalam 5-6 tahun terakhir ini.
Di tengah, naik turunnya performa sektor ritel, tenant yang senantiasa ikut terus tumbuh, beradaptasi dan mendapat implikasi dari berbagai tantangan, baik datang dari lokal maupun kondisi global yang masih tidak menentu adalah sektor F&B (makanan dan minuman).
Sektor F&B, dulu dianggap sebagai pelengkap dari bangunan ritel, menyediakan kuliner di tengah tenant mix retail yang umumnya didominasi anchor tenant berupa department store, atau gerai premium fashion dan lifestyle.
Namun, beberapa tahun belakangan, hadir fine dining outlet di berbagai ritel di Jakarta, yang menawarkan tidak hanya kuliner, tetapi juga tempat yang nyaman, yang memberikan pengalaman baru sebagai tempat yang berfungsi tidak hanya sebagai restoran namun memberikan pengalaman yang berbeda, dengan ruang yang didesain inovatif, memperhatikan biophilic instrument dan tren yang diminati konsumen saat ini.
Di awal tahun 2026, F&B menjadi tenant baru yang mendominasi, hampir separuh tenant baru yang masuk di ruang ritel Jakarta, datang dari sektor F&B. Menariknya, di tengah gempuran digitalisasi global, F&B lokal masih merajai ruang ritel di Jakarta, atau sekitar 70%. F&B asing, didominasi dari Jepang, China, Taiwan, USA, Thailand bahkan Switzerland.
F&B lokal, memiliki porsi sekitar 40% sebagai tenant baru di ritel kelas A. Seperti : Seroja Bake, Uma Oma, UNION, TUKU, dsb. Sementara itu, F&B asing, terutama yang berasa dari Jepang dan China masuk di seluruh kelas ritel Jakarta saat ini, meskipun alokasi terbesar ada di ritel kelas menengah ke atas.
Sedikit berbeda, peritel F&B dari Switzerland, menjajakan komoditas coklat premium, hanya melakukan ekspansi di ritel premium di Jakarta saat ini. Memang, ritel premium di Jakarta dikenal dengan daya tahan konsumen-nya yang tinggi, tidak hanya untuk sektor F&B, tetapi juga untuk fashion, lifestyle, dan hiburan.
Gerak-gerik dari ekspansi masif sektor F&B memberikan refleksi terhadap banyak hal diantaranya adalah, fenomena lipstick effect yang memberikan gambaran psikologis upaya konsumen untuk membahagiakan diri dengan belanja premium untuk skala kebutuhan yang relatif terjangkau.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber:
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818