Pertumbuhan pesat industri data center di dunia, termasuk di Indonesia, tidak hanya mendorong lonjakan kebutuhan listrik, tetapi juga konsumsi air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan server.
Konsumsi listrik data center global diperkirakan naik menjadi 448 terawatt-jam pada tahun 2025, atau dapat dikatakan bahwa data center menjadi konsumen listrik terbesar ke-11 di dunia. Namun di balik angka tersebut, kebutuhan air justru kerap luput dari perhatian publik.
Sebuah fasilitas data center hyperscale berkapasitas 100 megawatt di Amerika Serikat dapat menggunakan sekitar dua juta liter air per hari untuk mendinginkan mesin server yang beroperasi tanpa henti.
Dalam konteks operasional industri, rata-rata efisiensi penggunaan air atau water usage effectiveness yang dapat dicatat sekitar 1,9 liter per kilowatt-jam, jauh dari skor ideal nol yang hanya dapat dicapai oleh fasilitas berpendingin udara penuh.
Beberapa perusahaan teknologi besar mulai mengungkap jejak penggunaan air untuk operasional mereka. Konsumsi air pusat data secara global mencapai 2,5 miliar galon sepanjang tahun 2025, dengan efisiensi 0,12 liter per kilowatt-jam, jauh lebih baik dibandingkan dengan rata-rata industri sebesar 0,84 liter per kilowatt-jam.
Sementara itu, dalam rekam jejak penggunaan air untuk pendinginan pusat data tercatat sebesar 37 miliar liter pada tahun 2024, dengan 29 miliar liter di antaranya menguap dalam proses pendinginan.
Secara keseluruhan, konsumsi air data center berbasis kecerdasan buatan diproyeksikan melonjak 300 persen, dari 17 miliar galon pada 2023 menjadi 68 miliar galon pada 2028.
Tren ini juga mulai terasa di Indonesia. Rencana sembilan fasilitas data center di Nongsa Digital Park, Batam, diperkirakan mengonsumsi sekitar 29 juta liter air bersih per hari, atau setara dengan 8 persen dari total pasokan air kota tersebut.
Padahal, investasi data center di Indonesia terus tumbuh, termasuk fasilitas berkapasitas 48 megawatt di Karawang senilai 1,7 miliar dolar AS dan kampus data center 500 megawatt di Bekasi senilai 4,5 miliar dolar AS, didukung oleh harga lahan kompetitif di koridor timur Jabodetabek berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta per meter persegi.
Ekspansi infrastruktur digital sebesar ini menuntut perhatian lebih, tidak hanya pada kebutuhan energi, tetapi juga pada ketersediaan air, agar pertumbuhan pusat data tidak memicu krisis air bersih di wilayah sekitarnya di masa depan.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/pergeseran-tren-menuju-asia-tenggara-data-center-semakin-kuat-di-indonesia/4865
https://teknologi.bisnis.com/
https://www.cnbcindonesia.com/
https://www.kompas.com/
https://www.detik.com/
https://www.cnnindonesia.com/