Di tengah masifnya perkembangan data center seiring dengan kebutuhan terhadap data storage, operasional layanan digital, infrastruktur cloud, Artificial Intelligence (AI), hingga pengamanan data, Indonesia menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk membangun fasilitas ini di lingkup Asia Tenggara.
Mengacu pada report bertajuk “Data Centre Atlas 2026” yang dirilis oleh Knight Frank Global, Kota Jakarta ditempatkan sebagai satu dari 23 kota di Asia-Pasifik yang dipetakan dalam lanskap data center global, bersama dengan Tokyo, Singapura, dan Seoul. Kehadiran Jakarta dalam daftar ini menegaskan posisi Indonesia yang semakin diperhitungkan dalam peta investasi digital Asia-Pasifik, terutama karena besarnya permintaan terkait transformasi ekonomi digital.
Dalam laporan Knight Frank tersebut, dijelaskan bahwa kapasitas live information technology (IT) di Greater Jakarta pada awal tahun 2026 mencapai 344 megawatt (MW), dengan tambahan 329 MW dalam tahap konstruksi dan 1,6 gigawatt (GW) lainnya tengah digarap oleh para investor. Ke depannya, terdapat dukungan lahan yang sudah diamankan untuk kapasitas lebih dari 2,3 GW.
Sejumlah proyek besar menyertai capaian ini, seperti perusahaan Microsoft yang mengembangkan fasilitas 48 MW di Karawang pada tahun 2025 dengan investasi sebesar 1,7 miliar dolar AS, sementara Digital Edge berkomitmen untuk membangun kampus data center berdaya 500 MW, yang siap untuk kebutuhan AI di wilayah Bekasi dengan investasi senilai 4,5 miliar dolar AS.
Selain di Jabodetabek, ekspansi Data Center juga mulai merambah wilayah Batam melalui KEK Nongsa Digital Park dan NeutraDC Nxera milik TelkomGroup. Jika melihat data historis, Knight Frank mencatat masuknya beberapa penyedia cloud besar di sektor data center Indonesia, seperti Google Cloud (tahun 2020), Amazon Web Services (tahun 2021), dan Microsoft melalui Indonesia Central Cloud Region (tahun 2025). Setidaknya tercatat sejumlah proyek data center baru dengan kapasitas mencapai 1,2 GW di sepanjang tahun 2025.
Masuknya pelaku data center tersebut tidak terlepas dari daya tarik yang dimiliki Indonesia, seperti ketersediaan lahan yang luas dengan harga kompetitif di koridor timur Greater Jakarta seperti Karawang, Purwakarta, dan Subang (berkisar Rp1,5–3 juta/m²), besarnya pasar data digital yang berkembang di Asia Tenggara, serta banyaknya pengguna internet yang menciptakan kebutuhan akan kecepatan koneksi.
Selain itu, hasil riset pada laporan Data Centre Atlas 2026 juga menyebut biaya konstruksi di Indonesia tergolong murah, sekitar 10,5–11,6 juta dolar AS per MW, sehingga menarik pemain global, termasuk investor dari Hong Kong, Amerika, dan Singapura yang tengah melakukan diversifikasi lokasi akibat berbagai kondisi, seperti keterbatasan lahan yang terjadi di Singapura.
Meski prospeknya cerah, perkembangan data center di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, terutama terkait ketersediaan dan kepastian pasokan energi. Data Kementerian ESDM RI mencatat bauran energi terbarukan nasional baru mencapai 17,3% pada semester I tahun 2026, sementara pembangkit listrik berbasis batubara masih memasok 64,87% dari produksi listrik pada Januari–April tahun 2026.
Ketua IDPRO (Indonesia Data Center Provider Organization), Hendra Suryakusuma, menyebut tantangan utama pengembangan data center kini bergeser dari ketersediaan lahan ke kepastian pasokan daya dan kecepatan penyediaannya, seiring dengan kebutuhan AI terhadap daya listrik yang jauh lebih tinggi. Selain itu, proses perizinan masih memerlukan sinkronisasi yang lebih baik antara instansi pusat dan daerah.
Di tengah tantangan tersebut, ekspansi kapasitas data center nasional diperkirakan tetap berlangsung pesat. Hendra Suryakusuma menyatakan bahwa kapasitas data center tercatat sebesar 637,24 MW pada Mei 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,65 GW pada akhir tahun 2026, yang berpotensi melampaui Singapura dengan kapasitas sekitar 1,4–1,5 GW. Dalam jangka lebih panjang, IDPRO memproyeksikan kapasitas data center nasional dapat mencapai 11,7 GW pada tahun 2030.
Tidak dapat dipungkiri, pertumbuhan kapasitas data center juga terjadi didorong pasar data di Indonesia yang menggiurkan, dengan basis pengguna data dan sektoral yang masih terus berkembang.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://kfmap.asia/research/data-centre-atlas-2026/5191
https://kfmap.asia/blog/pergeseran-tren-menuju-asia-tenggara-data-center-semakin-kuat-di-indonesia/4865
https://technode.global/
https://www.cnbcindonesia.com/
https://www.dunia-energi.com/
https://teknologi.bisnis.com/
https://www.cnnindonesia.com/