Fenomena brand fashion yang merambah ke sektor food & beverage (F&B) menjadi salah satu strategi baru dalam industri ritel global maupun di Indonesia. Saat ini, sejumlah brand fashion tidak lagi hanya menjual produk pakaian atau aksesori, tetapi juga menghadirkan lifestyle experience melalui kafe, restoran, maupun konsep community space.
Di Indonesia, tren ini mulai terlihat dari ekspansi brand fashion Coach ke sektor F&B melalui The Coach Coffee Shop di kawasan Alam Sutera, yang menghadirkan pengalaman berbelanja fashion sekaligus menikmati kuliner dalam satu destinasi. Selain itu, peritel pakaian asal Jepang, yaitu Uniqlo di Hong Kong, juga mulai menghadirkan area kafe di dalam gerainya yang berlokasi di Cityplaza.
Strategi ini muncul seiring perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja, yang turut didorong oleh perkembangan teknologi digital. Saat ini, pembelian produk fashion menjadi semakin mudah dilakukan secara online melalui marketplace, website brand, maupun social commerce. Platform digital membuat konsumen semakin mudah membandingkan produk dengan penawaran terbaik, sehingga mendorong pelaku fashion retail untuk menghadirkan pengalaman baru dalam menarik kedatangan konsumen.
Dalam The Wealth Report 2026 yang dipublikasikan oleh Knight Frank Global, dijelaskan bahwa perkembangan platform belanja online, seperti Amazon dan Alibaba, sempat membuat banyak pihak meragukan prospek ritel fisik dalam jangka panjang. Namun, laporan tersebut menunjukkan bahwa ritel justru kembali menunjukkan performa yang kuat karena konsumen masih membutuhkan pengalaman berbelanja secara langsung dan interaktif.
Laporan Knight Frank Global tersebut juga menekankan bahwa sektor ritel mampu bangkit kembali melalui pendekatan yang lebih experiential dan lifestyle-oriented, terutama pada pusat ritel yang mampu menciptakan destinasi sosial dan pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh e-commerce.
Insight tersebut juga sejalan dengan temuan Knight Frank Indonesia dalam laporan Jakarta Property Highlight 2H 2025. Dijelaskan bahwa sektor yang mendominasi ekspansi tenant adalah F&B, fashion, beauty & personal care, lifestyle, hingga entertainment. Sementara itu, dominasi tenant baru datang dari sektor F&B, dengan porsi mencapai 24% pada ritel premium dan 50% pada ritel grade A.
Kondisi tersebut mencerminkan peningkatan daya tarik pada sektor F&B. Salah satu pemicunya adalah pergeseran nilai konsumen yang kini lebih mencari aspek pengalaman dan hubungan sosial. Kafe dan restoran kini tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga tempat berkumpul, bekerja, hingga aktivitas media sosial.
Oleh sebab itu, mulai bermunculan brand fashion yang mengintegrasikan konsep F&B sebagai bagian dari strategi beradaptasi dengan bentuk experiential retail, yaitu menjadikan toko fisik sebagai tempat menikmati pengalaman brand secara lebih menyeluruh. Kehadiran kafe dalam ritel juga dapat meningkatkan foot traffic, memperpanjang durasi kunjungan konsumen, memperkuat emotional attachment terhadap brand, serta menciptakan daya tarik visual dan promosi organik oleh pengunjung melalui ekspos di media sosial.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://kfmap.asia/research/the-wealth-report-2026/4895
https://kfmap.asia/blog/digitalisasi-fenomena-doom-spending-bagaimana-dampaknya-bagi-sektor-ritel/4864
https://food.detik.com/
https://www.vogue.com/
https://www.scmp.com/