Terminologi Superblock: Pengembangan Kawasan Perkotaan atau Mixed-Use Development?

Friday, 24 July 2026

Barcelona, salah satu kota di Spanyol, memiliki desain tata kota yang unik. Jika dilihat dari helicopter view, kota ini memiliki pola bangunan dan jalan berbentuk grid yang presisi. Kawasan ini dikenal sebagai Eixample yang berarti “pengembangan”. Sesuai dengan namanya, Eixample merupakan bagian dari rencana pengembangan Barcelona pada tahun 1860 yang dirancang dalam bentuk blok berukuran 113 x 113 meter. Setiap blok direncanakan diisi oleh bangunan yang mengelilingi sisi luar blok, sementara bagian tengahnya difungsikan sebagai lapangan, ruang publik, dan area parkir.

Memasuki akhir abad ke-20, sekitar tahun 1980-an, permasalahan perkotaan mulai muncul seperti kemacetan, kebisingan, dan polusi udara akibat tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Untuk mengatasi permasalahan ini, Salvador Rueda, ahli ekologi kota, merumuskan konsep kota modern yang dikenal sebagai Superblock. Konsep ini menggabungkan sembilan blok eksisting di Barcelona menjadi satu kawasan seluas sekitar 400 × 400 meter. Jalan-jalan di bagian dalam kawasan kemudian diprioritaskan bagi pejalan kaki dan pesepeda (active mobility), sehingga tidak lagi dilalui kendaraan bermotor. Sementara itu, transportasi publik hanya diperbolehkan melintasi jalan di sisi luar kawasan.

Konsep ini telah diimplementasikan dalam tiga proyek percontohan pada periode tahun 1993 hingga tahun 2003. Memasuki tahun 2010-an, Pemerintah Barcelona kemudian menetapkan superblock sebagai salah satu kebijakan resmi melalui Urban Mobility Plan 2013–2018 dan mulai menerapkannya kembali pada tahun 2014. Hasil awal menunjukkan bahwa jumlah pejalan kaki meningkat hingga 10% dan jumlah pesepeda meningkat sekitar 30%.

Keberhasilan tersebut mendorong pemerintah untuk merancang kembali 21 jalan utama dengan target implementasi hingga tahun 2030. Dalam jangka panjang, Barcelona akan membangun 503 superblock yang diproyeksikan mampu mengurangi polusi dengan menurunkan konsentrasi nitrogen dioksida (NO₂) sebesar 24%, dari 47 menjadi 36 mikrogram per meter kubik.

Lalu, bagaimana dengan superblock yang diartikan di Indonesia?

Pengembangan superblock di Indonesia merujuk pada integrated mixed use development yang menggabungkan residential, retail, hotel, leisure, dengan office dalam satu kawasan besar. Pengembangan seperti ini umumnya dilakukan oleh pengembang berskala besar dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan perkotaan yang semakin terbatas.

Salah satu contohnya adalah salah satu pengembangan kawasan di Jakarta Barat, dengan luas sekitar 25 hektar. Kawasan ini mengintegrasikan berbagai fungsi, mulai dari hunian vertikal berupa 12 menara apartemen, pusat perbelanjaan Central Park Mall dan Central Park 2, perkantoran APL Tower dan Soho Capital, Hotel Pullman, Podomoro University, hingga koridor shophouses.

Konsep superblock seperti ini sudah bermunculan di Indonesia. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah lain seperti Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya.

Pada akhirnya, terminologi superblok memiliki karakter yang berbeda, dengan tujuan akhir yang sama. Superblock yang dimaksud oleh Barcelona lebih menekankan konsep healthy city yang berorientasi pada peningkatan kualitas udara dan pengurangan kemacetan melalui pengaturan struktur kota. Sementara, superblock yang berkembang di Indonesia lebih mengimplementasikan landed mixed-use development, dengan ide efisiensi pemanfaatan lahan dan pergerakan masyarakat.

 

Penulis: Jovan Rafkhansa

Sumber: 

https://www.kompas.com/

https://barcelonarchitecturewalks.com/

https://www.theguardian.com/

https://www.citiesforum.org/

https://www.who.int/

https://www.meet.barcelona/

https://www.agungpodomoro.com/

Share:
Back to Blogs