Baru-baru ini, Knight Frank Asia Pasifik merilis publikasi terkait Property Outlook, yang bertajuk Value Hunting Amid Volatility: 2026 Sees Investors and Occupiers Rethink Real Estate Strategies.
Pada salah satu bahasan, disebutkan strategi pengembangan bisnis properti per subsektor pada setiap kota, diantaranya Jakarta.
Dalam strategi yang dijelaskan digunakan lima klasifikasi, yaitu Core, Core Plus, Value-add, Opportunistic, dan Repurposing. Berikut strategi yang disebutkan untuk Jakarta pada setiap klasifikasi.
Core, adalah suatu kondisi yang menjelaskan bahwa suatu aset properti memiliki prospek yang baik dengan nilai risiko yang rendah. Subsektor properti yang termasuk dalam klasifikasi core di Jakarta meliputi ritel premium, perkantoran premium, dan kawasan industri.
Core Plus, adalah suatu kondisi yang menjelaskan bahwa suatu aset properti memiliki prospek yang baik, namun dengan nilai risiko yang rendah sampai sedang. Sementara itu, subsektor properti yang berada di klasifikasi Core Plus di Jakarta adalah pergudangan dan ritel di area pinggiran kota.
Value-add, adalah suatu kondisi yang menjelaskan bahwa suatu aset properti memiliki prospek yang baik, namun dengan nilai risiko yang sedang sampai tinggi. Subsektor properti yang berada di klasifikasi value-add di Jakarta adalah hotel bintang 4 atau 5 dan apartemen servis di area CBD.
Opportunistic, adalah suatu kondisi yang menjelaskan bahwa suatu aset properti memiliki prospek yang baik, namun dengan nilai risiko tinggi. Subsektor properti yang berada di klasifikasi opportunistic di Jakarta adalah perkantoran pada kelas B/C, dan ritel strata.
Repurposing, adalah suatu kondisi yang menjelaskan bahwa suatu aset properti perlu dialihfungsikan untuk mengoptimalkan nilainya. Tidak seperti kota yang lainnya, di Jakarta, tidak ada subsektor yang diarahkan untuk repurposing pada tahun 2026.
Sekilas tentang subsektor properti pada klasifikasi core, yaitu ritel premium, premium office, dan kawasan industri.
Ritel premium saat ini tidak hanya tumbuh, tapi mampu memenuhi ekspektasi retailer, investor dan konsumen yang terus dinamis di Jakarta, dengan rerata keterisian ruang diatas 90%. Sementara itu, premium office di CBD Jakarta saat ini tergolong perkantoran dengan kelas tertinggi yang umumnya telah berlabel hijau, saat ini menjadi acuan permintaan yang menyebabkan fenomena flight to quality. Sedangkan kawasan industri, permintaannya terus tumbuh, terutama dari sektor EV-related (otomotif), e-commerce, elektronik, FMCG, fnb, dsb.
Strategi pengembangan dan ekspansi untuk beberapa subsektor yang disebutkan di atas, pada tahun 2026 perlu dikelola dan dioptimalkan, sehingga produktivitas dapat memenuhi ekspektasi. Namun, perlu diingat bahwa pengelolaan yang tepat sangat ditentukan oleh kebutuhan dan profil konsumen, dan pertumbuhan dari bisnis yang terkait, termasuk perhatian Pemerintah untuk membuka kelonggaran transaksi.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://kfmap.asia/research/asia-pacific-outlook-2026/4546