Rumah Sepanjang Hidup: Memahami Housing Career dan Dinamika Kebutuhan Hunian

Friday, 27 February 2026

Banyak orang menganggap membeli rumah sebagai tujuan akhir dalam hidup. Padahal, memiliki dan tinggal di sebuah rumah sebenarnya merupakan bagian dari proses panjang yang disebut housing career. Konsep ini menggambarkan perjalanan seseorang melalui berbagai tipe hunian sesuai fase kehidupan. Bermula dari tinggal di kos atau apartemen sewa saat mulai meniti karier, lalu pindah ke rumah tapak pertama setelah menikah, hingga memilih hunian yang lebih praktis saat anak mulai hidup mandiri, rumah sejatinya mengikuti perubahan hidup kita. Rumah bukan sekadar aset, tetapi cerminan fase hidup seseorang. 

Data menunjukkan fenomena ini nyata di Indonesia. Pada tahun 2025, BPS menyebutkan bahwa sekitar 85% rumah tangga menempati rumah milik sendiri, tetapi di kota besar seperti Jakarta hanya 54,5% yang memiliki rumah sendiri dan sisanya masih menyewa. Ini menunjukkan mobilitas hunian yang tinggi dan kebutuhan akan fleksibilitas tempat tinggal seiring perubahan fase kehidupan, dari awal bekerja hingga membangun keluarga.

Selain itu, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, menyebut bahwa backlog perumahan sudah mencapai 15 juta unit pada 2025. Hal ini menegaskan pentingnya penyediaan hunian yang terjangkau dan adaptif. Permintaan hunian yang beragam, baik dari segi jumlah maupun tipe, membuka peluang untuk menghadirkan solusi tempat tinggal yang fleksibel. Penyediaan hunian yang variatif dapat membantu masyarakat menyesuaikan pilihan tempat tinggal mereka dengan berbagai fase kehidupan.

Selain itu, terbatasnya tipe hunian fleksibel yang terjangkau seperti student housing, co-living, atau kos modern di Indonesia menjadi tantangan lain yang sering dijumpai. Persediaannya yang tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa pendidikan tinggi di Indonesia yang mencapai 8,5 juta pada tahun 2025 menunjukkan urgensi kebutuhan akan tipe hunian tersebut. Karakteristik hunian sederhana dan fleksibel tidak hanya cocok untuk mengakomodasi mahasiswa dan profesional muda, tetapi juga kelompok masyarakat lain yang sedang berada dalam fase transisi. 

Melihat rumah melalui perspektif housing career mengembangkan pemahaman bahwa hunian bukan sekadar bangunan. Rumah menjadi saksi perjalanan hidup sekaligus indikator dinamika permintaan pasar properti lintas generasi. Fenomena ini menekankan pentingnya penyediaan pilihan hunian yang fleksibel dan relevan dengan kebutuhan setiap fase kehidupan. 

Pada akhirnya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga merefleksikan fase-fase kehidupan yang berbeda. Pola-pola ini sedianya dapat difahami oleh pengembang untuk mampu menghasilkan produk yang lebih tepat dengan kebutuhan dan dinamika pasar saat ini.

 

Penulis: Nareswari Dahayu

Sumber:

https://kfmap.asia/blog/student-housing-investasi-sektor-properti-yang-prospektif/4520 

https://doi.org/

https://www.kompas.id/

https://jpi.or.id/

https://www.bps.go.id/

Share:
Back to Blogs