Realisasi investasi di kuartal IV 2025 yang menembus angka Rp 496,9 triliun benar-benar menjadi angin segar bagi sektor properti, terutama dengan pertumbuhan tahunan sebesar 9,7 persen yang melampaui target pemerintah. Ketangguhan ekonomi ini didorong oleh keseimbangan modal yang sehat, dengan Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 51,6 persen dan modal dalam negeri (PMDN) sebesar 48,4 persen.
Menariknya, tren investasi kini tidak lagi berpusat di jawa karena wilayah luar Jawa berkontribusi sedikit lebih unggul sebesar 50,2 persen. Walaupun Jawa Barat masih menjadi primadona, munculnya Sulawesi Tengah sebagai salah satu lokasi investasi tertinggi memberikan sinyal kuat bahwa peluang pengembangan hunian dan kawasan komersial kini semakin tersebar luas ke daerah-daerah strategis baru.
Jika melihat lebih dalam pada subsektornya, industri logam dasar dan barang logam mendominasi dengan capaian Rp262,0 triliun atau 13,6 persen dari total investasi. Hal ini berkaitan erat dengan masifnya investasi hilirisasi yang tumbuh spektakuler sebesar 43,3 persen menjadi Rp584,1 triliun, di mana sektor mineral dan batubara, khususnya nikel, memegang porsi terbesar senilai Rp185,2 triliun. Bagi pelaku properti, dominasi hilirisasi di luar Jawa yang mencapai 71,1 persen dari total investasi hilirisasi adalah indikator untuk mulai melirik pengembangan township baru atau hunian pekerja di sekitar pusat pengolahan mineral seperti di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
Selain hilirisasi, sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi yang menempati posisi kedua dengan investasi Rp211,0 triliun (10,9%) menjadi katalisator utama bagi pertumbuhan properti logistik. Tingginya angka ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan fasilitas pergudangan modern dan pusat distribusi yang terintegrasi, terutama di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi seperti Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur.
Di sisi lain, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sendiri tetap menunjukkan performa stabil dengan nilai Rp140,4 triliun. Dengan dukungan modal asing yang kuat, terutama dari Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok, pemanfaatan data pasar yang akurat menjadi kunci bagi profesional properti untuk membangun portofolio aset yang tangguh dan relevan dengan arah pembangunan industri nasional ke depan.
Dominasi aliran modal dari negara-negara seperti Singapura (USD 7,9 miliar) dan Hong Kong (USD 6,2 miliar) semakin mempertegas peran investor global dalam membentuk wajah properti Indonesia ke depan. Tingginya minat investasi di sektor hilirisasi dan infrastruktur logistik ini secara tidak langsung menciptakan efek domino terhadap peningkatan daya beli di daerah, yang nantinya akan memicu kebutuhan akan fasilitas komersial, ritel, hingga pusat gaya hidup baru di sekitar kawasan ekonomi tersebut.
Bagi pengembang, tantangan sekaligus peluang terbesarnya adalah bagaimana mendorong dan terlibat dalam tumbuhnya ekosistem properti yang sehat, tidak hanya modern secara fasilitas, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika industri hilir yang kini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
Penulis : Arief Fadhillah
Sumber :
https://www.tempo.co/
https://www.bkpm.go.id/
https://data.bkpm.go.id/
https://www.youtube.com/