Prospek Properti di Koridor MRT

Tuesday, 6 January 2026

Pembangunan MRT Jakarta merupakan salah satu proyek infrastruktur strategis nasional yang berperan penting tidak hanya dalam mengatasi permasalahan kemacetan, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi perkotaan, khususnya di sektor properti. Secara historis, kehadiran sistem transportasi massal modern seperti MRT terbukti mampu meningkatkan nilai lahan, mengubah arah pengembangan kawasan, serta membentuk pusat-pusat aktivitas ekonomi baru di sepanjang koridor layanan.

Saat ini, MRT Jakarta memasuki fase pengembangan lanjutan melalui pembangunan MRT Fase 2 serta perencanaan ekspansi ke arah timur. MRT Fase 2 dirancang untuk memperluas jangkauan layanan dan memperkuat konektivitas antarmoda di Jakarta, yang terbagi ke dalam dua tahap, yakni Fase 2A (Bundaran HI–Kota) dengan panjang sekitar 5,8 kilometer dan Fase 2B (Kota–Ancol) sepanjang kurang lebih 6 kilometer. Di samping itu, pengembangan MRT lintas Timur–Barat juga direncanakan untuk menghubungkan Tomang di Jakarta Barat hingga Medan Satria di Bekasi, dengan total panjang jalur sekitar 24,5 kilometer.

Lebih dari sekadar menyediakan transportasi massal yang efisien, MRT Jakarta telah menjadi katalis penting dalam transformasi nilai dan pola pengembangan properti perkotaan. Pengoperasian MRT Fase 1 (Lebak Bulus–Bundaran HI) menunjukkan bagaimana infrastruktur transportasi modern mampu meningkatkan daya tarik kawasan di sekitarnya, yang tercermin dari kenaikan nilai tanah dan properti akibat aksesibilitas yang lebih baik, pemangkasan waktu tempuh, serta integrasi antarmoda yang semakin optimal

Properti residensial dan komersial yang berada dalam jarak dekat dengan stasiun MRT umumnya mengalami apresiasi harga yang lebih cepat dibandingkan kawasan yang tidak terlayani transportasi massal. Tren ini terlihat jelas di berbagai titik pada koridor MRT Fase 1, dengan nilai tanah terus meningkat seiring beroperasinya MRT dan semakin matangnya ekosistem transportasi publik.

Di sisi lain, keterbatasan lahan di Jakarta yang dibarengi dengan kenaikan harga tanah mendorong pengembang untuk menggeser pola pengembangan dari hunian horizontal ke arah hunian vertikal, seperti apartemen dan kondominium. Konsep mixed-use pun semakin berkembang, dengan mengintegrasikan hunian, perkantoran, ritel, dan fasilitas publik dalam satu kawasan terpadu.

Pola pengembangan tersebut sejalan dengan prinsip Transit Oriented Development (TOD), yang menekankan efisiensi pemanfaatan ruang, kemudahan aksesibilitas, serta pengurangan ketergantungan pada kendaraan pribadi. Kawasan di sekitar stasiun MRT tidak lagi berfungsi semata sebagai titik transit, melainkan berkembang menjadi pusat aktivitas perkotaan baru.

Keberhasilan MRT Fase 1 dalam menarik jumlah pengguna yang tinggi dan meningkatkan kualitas mobilitas perkotaan telah memperkuat kepercayaan investor terhadap pengembangan properti di sepanjang koridor MRT, khususnya proyek berbasis TOD yang dinilai memiliki risiko relatif lebih terkendali dengan potensi pertumbuhan jangka panjang yang solid. Sejalan dengan strategi tersebut, PT MRT Jakarta mengalokasikan investasi sekitar Rp1,5 triliun untuk pengembangan kawasan TOD di sejumlah lokasi strategis sepanjang jalur MRT Fase 1, yang mencakup penyediaan plaza transit, ruang publik, hunian terintegrasi, serta fasilitas pendukung lainnya.

Dengan demikian, pengalaman dari pengembangan MRT Fase 1 menjadi referensi kuat bahwa pembangunan MRT Fase 2 dan jalur Timur–Barat tidak hanya akan meningkatkan mobilitas perkotaan, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan nilai properti serta transformasi kawasan secara lebih luas di masa yang akan datang.

 

Penulis : Miranti Paramita

Sumber : 

https://www.idntimes.com/

https://www.kompas.id/

https://finance.detik.com/

Share:
Back to Blogs