Piala Dunia dikenal sebagai salah satu ajang olahraga dengan jangkauan siaran terbesar di dunia. Data resmi FIFA memperkirakan audiens turnamen mencapai 5 hingga 6 miliar penonton sepanjang penyelenggaraan, dengan pertandingan final saja ditonton sekitar 1,5 miliar orang, jauh melampaui jumlah penonton ajang lain seperti Super Bowl yang berkisar 120 juta. Besarnya perhatian global tersebut menjadikan Piala Dunia tidak hanya sebagai ajang olahraga, tetapi juga momentum yang memperkenalkan kota tuan rumah sekaligus menampilkan perkembangan infrastruktur, kawasan, dan pasar propertinya kepada dunia.
Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi salah satu contoh bagaimana eksposur global tersebut dapat beriringan dengan dinamika pasar properti. Data menunjukkan bahwa rata-rata harga properti di 16 kota tuan rumah meningkat sekitar 44% sejak pengumuman penyelenggaraan. Guadalajara mencatat pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan lebih dari 100%, disusul Monterrey dan Mexico City. Sementara itu, kota-kota seperti Miami dan Kansas City juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, sedangkan Vancouver dan San Francisco tetap mencatat kenaikan meskipun lebih moderat.
Meski demikian, penyelenggaraan ajang olahraga berskala besar tidak selalu memberikan dampak yang bertahan lama terhadap pasar properti. Setelah Piala Dunia 2022, pasar residensial Qatar mulai mengalami penurunan seiring bertambahnya pasokan hunian. Qatar Real Estate Market Review dari Knight Frank mencatat transaksi residensial turun sekitar 18% hingga kuartal III 2023, menunjukkan bahwa pembangunan yang dipercepat tetap perlu diimbangi dengan kebutuhan pasar setelah penyelenggaraan berakhir.
Fenomena serupa juga dapat ditemukan pada penyelenggaraan ajang olahraga berskala besar lainnya. Di Indonesia, Asian Games 1962 menjadi tonggak pembangunan kompleks Gelora Bung Karno yang hingga kini masih menjadi salah satu pusat kegiatan olahraga nasional. Lebih dari lima dekade kemudian, Asian Games 2018 kembali mendorong revitalisasi GBK serta percepatan pembangunan berbagai infrastruktur pendukung yang memberikan manfaat lebih luas bagi aktivitas perkotaan.
Meski memiliki skala dan karakteristik yang berbeda, berbagai ajang olahraga internasional menunjukkan pola yang serupa. Kehadiran event besar dapat menjadi momentum untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan visibilitas kota, serta memperkuat daya tarik suatu kawasan. Namun, besarnya dampak terhadap pasar properti tetap bergantung pada kemampuan kota tuan rumah memanfaatkan momentum tersebut melalui pengembangan yang berkelanjutan dan selaras dengan kebutuhan pasar.
Pada akhirnya, penyelenggaraan ajang olahraga berskala internasional bukan sekadar menghadirkan pertandingan yang disaksikan miliaran orang. Di baliknya, terdapat peluang untuk mempercepat pengembangan kawasan dan memperkuat citra kota di tingkat global. Namun, manfaat tersebut akan lebih berkelanjutan apabila didukung oleh perencanaan yang matang, pembangunan yang sesuai kebutuhan, serta fundamental pasar yang tetap kuat setelah sorotan dunia beralih ke destinasi berikutnya.
Penulis: Alya Arifa
Sumber:
https://www.knightfrank.ae/research/reports/qatar-real-estate-market-review-2598
https://www.camservices.com
https://www.kompas.com