Pasca Kecelakaan Bekasi Timur, Desakan Penutupan Perlintasan Sebidang Semakin Masif

Friday, 15 May 2026

Jalur kereta api merupakan salah satu urat nadi mobilitas perkotaan saat ini, namun di baliknya kerap menyimpan risiko yang mengancam nyawa, khususnya pada perlintasan sebidang. Tragedi kecelakaan maut yang baru-baru ini terjadi di Bekasi Timur pada 27 April 2026 menjadi sebuah alarm keras yang menyentak kesadaran publik. Insiden memilukan tersebut memicu gelombang desakan yang semakin masif dari berbagai elemen masyarakat dan pengamat transportasi untuk segera menutup perlintasan sebidang karena diduga sebagai sumber kecelakaan.

Setelah kejadian ini, urgensi penataan ini sudah pada tahap darurat yang tidak dapat ditunda. Data yang dihimpun oleh PT KAI dan Kementerian Perhubungan mencatat, sejumlah 3.674 perlintasan sebidang dengan fokus penanganan pada 1.810 titik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 172 perlintasan diarahkan untuk ditutup permanen karena kondisi jalan yang sempit, sedangkan 1.638 perlintasan lainnya memerlukan peningkatan fasilitas keselamatan secara bertahap.

Pihak PT KAI selaku operator kini berpacu dengan waktu dan telah berhasil menutup 29 perlintasan sebidang di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Madiun, Jember, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Palembang. Kalangan akademisi pun secara tegas merekomendasikan peniadaan perlintasan sebidang secara bertahap melalui pembangunan flyover atau underpass demi memprioritaskan keselamatan warga.

Penataan perlintasan sebidang bukan hanya tentang isu keselamatan lalu lintas, tetapi juga titik awal dari penataan struktur ruang kota yang aman. Keberadaan perlintasan yang semrawut sering kali menciptakan hambatan lalu lintas yang mengganggu pergerakan dari rumah menuju tempat beraktivitas sekaligus memperlambat arus logistik

Sebaliknya, intervensi melalui pengembangan infrastruktur yang memisahkan jalur kereta dengan jalan raya dapat mengurai simpul kemacetan. Aksesibilitas yang terbebas dari kemacetan perlintasan ini merupakan syarat dalam mewujudkan kawasan berorientasi transit (TOD) yang optimal. Ketika konektivitas menjadi mulus, nilai properti di kawasan residensial maupun industri sekitarnya akan bergerak naik secara signifikan.

Pada kesimpulannya, konsistensi pemerintah dalam mengeksekusi penutupan perlintasan sebidang adalah investasi jangka panjang untuk membenahi wajah perkotaan. 

 

Penulis : Mu’amar Khadafi

Sumber : 

https://ekonomi.bisnis.com/

https://www.kompas.com/

https://kumparan.com/

https://news.detik.com/

https://rri.co.id/

Share:
Back to Blogs