Pagar Besi di Mal Surabaya: Ketika Elemen Keamanan Menjadi Bagian dari Desain Ritel

Friday, 31 July 2026

Pertengahan Juli 2026, media sosial diramaikan oleh pemasangan pagar besi palisade setinggi sekitar 2 hingga 2,5 meter di area luar sejumlah mal besar di Surabaya, seperti Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall, Royal Plaza, dan Pakuwon City Mall. Manajemen menjelaskan bahwa langkah ini merupakan kombinasi beberapa kebutuhan: melindungi pejalan kaki dari arus kendaraan pascapembangunan jalan baru di sekitar kawasan, peremajaan pagar lama yang telah keropos, serta pengamanan area saat berlangsung aksi di sekitar Gedung Negara Grahadi. Kinerja ritel tetap positif dengan tingkat kunjungan yang tinggi sepanjang semester pertama. 

Terlepas dari spekulasi yang menyertainya, fenomena ini membuka diskusi menarik tentang hubungan antara faktor keamanan dan desain ritel. Praktik memperkuat perimeter ruang komersial bukan hal baru. Pada tahun 2018, Pemerintah Kota New York menginvestasikan lebih dari USD 50 juta untuk memasang sekitar 1.500 bollard permanen di Times Square dan berbagai ruang publik utama, yang dirancang terintegrasi dengan lanskap jalan agar tetap menjaga arus pejalan kaki dan keterbukaan ruang. Di Melbourne, blok-blok beton pengaman yang dipasang di pusat kota pada tahun 2017 justru bertransformasi menjadi kanvas seni jalanan warna-warni yang dijuluki "bollart" oleh warga internet, menunjukkan bagaimana elemen keamanan dapat melebur menjadi identitas visual kota. 

Pendekatan semacam ini menerapkan konsep bernama Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED), yang menekankan bahwa keamanan paling efektif tercipta melalui desain lingkungan yang hidup dan terawasi secara alami, bukan sekadar pembatas fisik.

Bagi properti ritel, area luar dan fasad merupakan etalase pertama yang membentuk persepsi pengunjung sebelum melangkah masuk. Beberapa akademisi dalam penelitiannya menyebutkan bahwa desain pagar turut menentukan kesan keterbukaan dan interaksi sosial sebuah bangunan. Pagar tinggi memberi rasa aman, namun perlu dirancang agar tidak menciptakan jarak psikologis dengan masyarakat. 

Pertimbangan ini semakin relevan di tengah arah pasar ritel yang bergerak menuju experience-led retail, dengan konsep semi-terbuka dan ruang ketiga yang justru mengandalkan keterhubungan visual antara mal dan lingkungannya, sebagaimana tercermin pada mal-mal generasi terbaru di Jakarta.

Ke depan, fenomena Surabaya ini dapat menjadi momentum bagi pengelola properti ritel untuk memandang elemen keamanan bukan sebagai kompromi terhadap estetika, melainkan sebagai bagian dari bahasa desain itu sendiri. Pengalaman New York dan Melbourne menunjukkan keduanya dapat berjalan beriringan, dan di situlah nilai sebuah destinasi belanja diuji, aman bagi pengunjungnya, sekaligus tetap ramah dan inklusif bagi kotanya.

 

Penulis : Zahraan Fauza Ardilla

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/pim-5-jawaban-dari-tren-experience-led-retail-di-indonesia/4762 

https://www.bisnis.com 

https://www.detik.com 

 https://www.nyc.gov 

https://www.bbc.com3 

https://beritajatim.com

Share:
Back to Blogs