Jalur laut merupakan tulang punggung perdagangan internasional yang sangat diandalkan. Dilansir dari World Economic Forum, sekitar 90% barang perdagangan dunia dikirim melalui laut. Angka ini menunjukkan bahwa stabilitas dan kelancaran ekonomi global sangat bergantung pada arus pelayaran internasional.
Dalam sistem tersebut dikenal istilah chokepoint, yakni jalur sempit yang menjadi penghubung utama lalu lintas kapal dunia. Keberadaannya sangat strategis karena umumnya menawarkan rute terpendek atau paling efisien antara pelabuhan dan kawasan utama. Secara fisik, chokepoint biasanya berupa selat atau kanal yang menghubungkan perairan besar, termasuk samudra dan laut.
Terdapat beberapa jalur perairan yang dikategorikan sebagai marine chokepoints karena tingkat kepadatan dan peran pentingnya bagi perdagangan global. Chokepoints tersebut di antaranya adalah Selat Malaka, Terusan Suez, Terusan Panama, dan Selat Hormuz. Keempat jalur ini berfungsi sebagai simpul penghubung utama antar wilayah dan antar benua, sehingga arus logistik dunia sangat bergantung pada kelancaran operasionalnya.
Misalnya, Selat Malaka menjadi penghubung utama Asia dengan Timur Tengah dan Eropa sehingga menjadi salah satu jalur tersibuk di dunia bagi 23,7% perdagangan laut global. Pada tahun 2024 tercatat lebih dari 94.000 kapal melintas dengan nilai perdagangan sekitar US$2,8 triliun. Selain itu, sekitar 24 juta barel minyak per hari dan sekitar 30% perdagangan kontainer dunia juga melewati rute ini.
Kemudian, Terusan Suez yang menangani sekitar 12–15% dari perdagangan global dan menjadi jalur utama antara Asia dan Eropa. Pada tahun 2023, lebih dari 26.000 kapal melewati kanal ini. Namun, pada tahun 2024 jumlahnya turun menjadi sekitar 13.000 kapal akibat gangguan keamanan, sehingga pendapatan kanal ikut turun dari sekitar US$10,25 miliar menjadi US$3,99 miliar.
Ketika kapal tidak dapat melewati jalur Terusan Suez maka kapal harus berputar melalui Afrika, sehingga perjalanan dapat bertambah sekitar 10–14 hari. Penambahan waktu tempuh ini dapat berimplikasi terhadap peningkatan biaya logistik dan mengganggu jadwal distribusi. Dampaknya ke sektor properti terlihat dari meningkatnya kebutuhan gudang penyangga (buffer stock) dan berkembangnya fasilitas logistik di pelabuhan alternatif dari jalur Terusan Suez.
Sama halnya dengan Terusan Panama yang menyumbang sekitar 5–6% perdagangan maritim global, dengan lebih dari 14.000 kapal dan sekitar 330 juta ton kargo per tahun. Jalur ini penting bagi konektivitas wilayah Asia dan pantai Timur Amerika Serikat, yang sekitar 40% lalu lintasnya melalui rute Terusan Panama.
Melalui jalur Terusan Panama, lalu lintas pengangkutan dapat menghemat hingga 8.000 mil laut dibandingkan dengan rute memutar Amerika Selatan. Namun, saat terjadi kekeringan, kanal ini akan mengurangi kapasitas kapal hingga sekitar 37%, menyebabkan antrean dan penundaan, yang pada akhirnya memperlambat proses distribusi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan cenderung memperluas kapasitas penyimpanan sehingga permintaan terhadap warehouse dan pusat distribusi meningkat pada periode tersebut.
Sementara itu, Selat Hormuz menjadi jalur distribusi energi dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman sebelum menuju Laut Arab. Selat ini dilalui sekitar 20% konsumsi minyak global, serta 20–25% perdagangan LNG dunia. Jika terjadi gangguan, dampaknya segera terasa pada harga energi global, yang dapat merambat ke biaya produksi dan transportasi di berbagai industri.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://newsmaker.tribunnews.com/
https://www.weforum.org/
https://www.globalguardian.com/
https://content.ballastmarkets.com/
https://www.atlanticcouncil.org/
https://www.firstcitizensgroup.com/