Warehouse atau Logistics Pergudangan di Asia Pasifik merupakan salah satu sektor properti yang memiliki prospek positif saat ini, meski di tengah ketegangan global. Tarif AS yang bergerak secara dinamis memunculkan strategi baru bagi investor untuk menghindari potensi kerugian tersebut, terutama Tiongkok yang mendapatkan ancaman tarif hingga 100% - 130%. Strategi China Plus One/Many menjadi salah satu bentuk penghindaran tersebut untuk mengurangi ketergantungan di China.
Knight Frank Asia-Pacific baru saja merilis publikasinya yang bertajuk Logistic Highlights H2 2025 yang membahas market update dari sektor logistik di semester dua tahun 2025. Secara agregat, kawasan Asia-Pasifik mencatat pertumbuhan sewa yang terbatas, yakni 0,3% HoH dan 0,2% YoY. Kinerja ini masih tertahan oleh kondisi pasar Tiongkok, dan pasar Australia yang juga mulai menunjukkan perlambatan.
Singapore sebagai wilayah dengan pertumbuhan tertinggi di Asia-Pacific, memiliki pertumbuhan sebesar 7% HoH dan 11.1% YoY didukung oleh occupiers yang teridentifikasi berasal dari sektor 3PL dan manufaktur. Meski begitu, pasokan ruang logistik di Singapore tercatat stagnan dan terbatas.
Masih di Asia Tenggara, Greater Ho Chi Minh City (HCMC) memiliki pertumbuhan sewa yang melonjak tinggi dengan pertumbuhan 2,8% di periode yang sama. Pengembangan gudang modern baru juga mendorong pertumbuhan tarif sewa. Permintaan juga terhitung baik dengan adanya transaksi skala besar dari sektor 3PL dari Indonesia dan Tiongkok Daratan.
India dengan kedinamisan tarif AS yang berawal dari 50% hingga sekarang menjadi 18%, malah membuat harga sewa tetap naik disekitar 1,5% pada semester II tahun 2025. Pendorong utamanya adalah sektor manufaktur yang diposisikan oleh Tiongkok sebagai alternatif basis produksi. Terdapat juga sektor 3PL dan e-commerce yang semakin aktif dalam penyewaan gudang. Flight to Quality menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan oleh occupiers.
As expected, pasar logistik di Asia Timur mengalami penurunan. Pertumbuhan sewa gudang yang negatif dialami oleh Shanghai (-6,9% HoH, -13.3% YoY) dan Beijing (-11.0% HoH, -18,1% YoY). Meskipun begitu, permintaan berpotensi membaik didukung oleh pasar domestik dan ekspansi occupiers besar dari sektor 3PL, manufaktur, dan ritel.
Ke depan, sektor pergudangan di Asia Pasifik diperkirakan tetap resilien meskipun ketidakpastian kebijakan tarif global masih berlanjut. Namun, dengan pasokan baru yang relatif tinggi di sejumlah pasar, pertumbuhan sewa diproyeksikan akan tetap terbatas dan cenderung berada di bawah 2%, seiring strategi diversifikasi rantai pasok dan friend-shoring yang mendorong ekspansi secara lebih selektif.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://apac.knightfrank.com/logistics-highlights
https://www.cnbcindonesia.com/
https://money.kompas.com/