Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kembali menjadi periode emas bagi sektor ritel. Sejumlah pusat perbelanjaan di berbagai kota besar terpantau dipadati pengunjung sejak awal libur panjang. Lonjakan ini terlihat dari meningkatnya arus pengunjung, antrian di area parkir, hingga kepadatan di tenant fashion, makanan, dan hiburan keluarga. Fenomena tersebut mencerminkan antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan libur akhir tahun sekaligus momentum belanja.
Pemerintah menilai tingginya aktivitas di pusat perbelanjaan tidak lepas dari dorongan berbagai program belanja berskala nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa salah satu motor penggerak utama konsumsi adalah program Belanja di Indonesia Aja (BINA) yang diselenggarakan oleh Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo). Program ini digelar serentak di mal-mal seluruh Indonesia dengan sasaran nilai transaksi mencapai Rp30 triliun hingga awal Januari 2026.
Selain belanja langsung di pusat perbelanjaan, pemerintah juga mengoptimalkan kanal digital melalui program Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Program ini diproyeksikan dapat menghasilkan transaksi sekitar Rp35 triliun. Every Purchase is Cheap (EPIC) turut memperkuat ekosistem konsumsi dengan menggabungkan promosi lintas platform, baik daring maupun luring. Dari program tersebut, pemerintah menargetkan total belanja masyarakat hingga akhir tahun berada di kisaran Rp110 triliun.
Sejumlah target tersebut ditopang oleh strategi agresif yang diterapkan pelaku ritel. Sepanjang periode Nataru, hampir seluruh tenant di pusat perbelanjaan menawarkan berbagai promo menarik, mulai dari potongan harga besar hingga program cashback. Diskon yang diberikan tidak tanggung-tanggung, dengan besaran mencapai 50%, bahkan masih ditambah penawaran lanjutan untuk produk tertentu.
Dampak dari strategi promosi tersebut terlihat dari tingginya partisipasi pelaku usaha. Tercatat sekitar 1.300 pelaku usaha terlibat, mulai dari pedagang, pelaku usaha daring, hingga platform lokapasar. Sepanjang pelaksanaannya, produk lokal memberikan porsi signifikan terhadap total nilai transaksi, yakni mencapai 45,6% atau setara Rp16,6 triliun. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan positif, karena nilai transaksi produk dalam negeri meningkat sekitar 3 persen atau bertambah Rp500 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
Pelaku industri ritel menilai kepadatan mal selama libur Nataru menjadi sinyal positif bagi pemulihan dan pertumbuhan konsumsi domestik. Selain meningkatkan penjualan, tingginya kunjungan juga memberikan efek berganda bagi sektor lain, seperti transportasi, pariwisata, dan jasa pendukung.
Dengan kombinasi program pemerintah, promosi ritel, serta momentum libur panjang, pusat perbelanjaan kembali menjadi salah satu penggerak utama roda ekonomi nasional di akhir tahun.
Penulis: Farah Septiawardahni
Sumber:
https://www.kompas.tv/
https://www.tempo.co/
https://www.pustakajc.co/