PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi menggelar groundbreaking untuk hunian vertikal berbasis Transit Oriented Development (TOD) di kawasan Manggarai pada Jumat, 21 Agustus 2026 yang lalu sebagai bagian dari Program 3 Juta Rumah pemerintah. Pengembangan ini menjadi salah satu upaya memanfaatkan lahan perkotaan dengan intensitas penggunaan yang tinggi.
Pembangunan berdiri di atas lahan milik PT KAI seluas 21.939 m² yang terbagi menjadi Blok F dan G. Secara keseluruhan, proyek direncanakan terdiri dari 8 tower dengan kapasitas sekitar 3.740 unit hunian. Tahap awal di Blok G akan mencakup 3 tower dengan sekitar 1.276 unit, sedangkan pembangunan Blok F dijadwalkan menyusul pada Oktober 2026.
Salah satu daya tarik utama proyek ini adalah lokasinya yang hanya sekitar 400 meter atau 4 menit berjalan kaki dari Stasiun Manggarai. Kedekatan dengan stasiun memberikan akses langsung terhadap jaringan transportasi publik dan menjadi salah satu karakter utama kawasan TOD. Bagi penghuni, kondisi tersebut dapat membantu memangkas waktu perjalanan serta mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Kehadiran hunian dalam jumlah besar juga berpotensi mendorong perubahan aktivitas kawasan di sekitar stasiun. Sebab hunian tidak hanya membutuhkan akses transportasi, tetapi juga fasilitas untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Karena itu, proyek ini turut direncanakan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti retail, fasilitas pedestrian, ruang terbuka hijau, dan fasilitas publik yang mendukung terbentuknya lingkungan hunian yang lebih terintegrasi.
Meski minat pasar terhadap hunian vertikal di Jakarta masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan hunian tapak, segmen menengah tetap menjadi penopang utama permintaan apartemen strata di ibu kota. Berdasarkan Jakarta Strata Apartment Market Update 1H 2026, segmen menengah mendominasi pasokan apartemen strata Jakarta dengan pangsa 39%, dengan Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi pasokan terbesar, yaitu sekitar 30%. Kondisi ini relevan dengan posisi hunian TOD Manggarai yang menyasar segmen menengah dan kebutuhan hunian riil, bukan sekadar instrumen investasi.
Keterbatasan lahan di pusat kota membuat hunian vertikal berbasis TOD seperti di Manggarai tetap relevan bagi masyarakat yang mencari hunian bersifat kompak, terjangkau, dan terhubung langsung dengan transportasi publik.
Dengan skala pengembangan yang besar dan lokasi yang dekat dengan salah satu simpul transportasi utama Jakarta, hunian TOD Manggarai dapat menjadi bagian dari perkembangan kawasan yang semakin mengintegrasikan fungsi residensial dengan mobilitas perkotaan. Pengembangan ini sekaligus menunjukkan bagaimana kedekatan dengan transportasi publik dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penyediaan hunian di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Penulis: Junilla Tristanti
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/potensi-pengembangan-hunian-vertikal-di-area-transit-massal-di-jakarta/2920
https://kfmap.asia/blog/transformasi-manggarai-menuju-integrasi-kawasan-hunian-dan-simpul-transportasi-perkotaan/4794
https://kfmap.asia/research/jakarta-strata-apartment-market-overview-2h-2025/4894
https://pkp.go.id/
https://www.antaranews.com/
https://money.kompas.com/
https://www.metrotvnews.com/