Dalam hitungan menit, gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Filipina pada awal Juni tahun 2026 menyebabkan puluhan korban jiwa, ratusan korban luka, serta kerusakan pada ribuan aset dan fasilitas publik. Di Kota General Santos, kerugian properti diperkirakan mencapai 1 miliar peso atau sekitar Rp260 miliar, sementara lebih dari 8.600 sekolah turut terdampak.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh besarnya magnitudo, tetapi juga oleh ketahanan bangunan yang berdiri di atasnya. Semakin rentan kualitas konstruksi suatu wilayah, semakin besar pula potensi kerugian yang harus ditanggung ketika bencana terjadi.
Dampak gempa tersebut tidak hanya dirasakan di Filipina. BNPB mencatat sebanyak 1.160 jiwa mengungsi di Sulawesi Utara, sementara 94 rumah mengalami kerusakan di Kepulauan Sangihe dan Talaud. Sejumlah fasilitas publik, termasuk rumah sakit dan gudang pelabuhan, juga terdampak akibat getaran gempa yang menjalar hingga wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas konstruksi menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat kerusakan. Bangunan yang tidak dirancang sesuai standar ketahanan gempa cenderung mengalami kerusakan lebih berat, terutama ketika gempa susulan terus terjadi. Hingga sehari setelah kejadian, otoritas Filipina masih mencatat puluhan gempa susulan yang berpotensi memperparah kerusakan pada bangunan yang telah mengalami retakan.
Kesadaran akan pentingnya konstruksi tahan gempa sudah mulai diterapkan pada berbagai proyek pembangunan di Indonesia. Salah satunya adalah Sekolah Rakyat di Lombok Utara yang dirancang menggunakan sistem bangunan tahan gempa. Langkah ini menjadi penting mengingat wilayah tersebut pernah mengalami gempa besar pada 2018 yang menyebabkan kerusakan luas pada rumah dan fasilitas publik.
Upaya mitigasi saat ini berkembang mengikuti kemajuan teknologi. BRIN bersama mitra riset dari Jepang tengah mengembangkan Structural Health Monitoring (SHM), yaitu sistem yang mampu memantau kondisi bangunan secara real-time setelah gempa terjadi. Teknologi ini dapat membantu menentukan apakah sebuah bangunan masih aman digunakan atau perlu dikosongkan sebelum gempa susulan datang.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari gempa Filipina bukan hanya tentang besarnya guncangan yang terjadi, tetapi tentang pentingnya membangun bangunan lebih tangguh, atau tahan terhadap bencana. Bagi Indonesia yang berada di kawasan ring of fire, investasi pada bangunan tahan gempa bukan sekadar biaya tambahan, melainkan langkah penting untuk melindungi keselamatan masyarakat, menjaga aset properti, dan mengurangi kerugian ekonomi ketika bencana datang.
Penulis : Alya Arifa
Sumber :
https://www.detik.com/
https://darilaut.id/
https://www.kompas.com/
https://www.vietnam.vn/id/
https://brin.go.id/orkm