Di era belanja online dengan dukungan pengiriman same-day, konsumen semakin terbiasa mendapatkan barang secara instan dan sering kali tanpa memikirkan asal-usul atau proses distribusi di baliknya. Pergeseran perilaku konsumen inilah yang mendorong lonjakan kebutuhan ruang logistik modern, terutama di Asia-Pasifik, dengan peran 3PL dan e-commerce sebagai motor utama.
Berdasarkan laporan Knight Frank Asia-Pacific yang bertajuk “Logistics Highlights H2 2025”, disebutkan bahwa Third-Party Logistics (3PL) dan pelaku e-commerce menjadi dua penyewa terbesar ruang logistik di kawasan Asia-Pasifik pada paruh kedua 2025. Kondisi ini tercermin dari transaksi skala besar yang dilakukan oleh pelaku 3PL, seperti J&T Express yang menyewa 20.000 sqm di Vietnam dan Maersk yang membuka fasilitas logistik seluas 180.000 sqm di dekat Kuala Lumpur, Malaysia.
Sementara itu di India, 3PL dan e-commerce menyumbang porsi besar dalam penyerapan ruang warehouse, dengan lebih dari 60% penyerapan terjadi pada segmen gudang premium, sehingga mengindikasikan tren flight to quality yang semakin kuat.
Dari sisi pasar, tingginya aktivitas 3PL dan e-commerce turut berdampak pada kinerja sewa ruang logistik. Pasar dengan konsentrasi penyewa dari kedua sektor ini cenderung mencatat pertumbuhan yang lebih resilien, contohnya Singapura dengan pertumbuhan sewa sekitar 7% pada H2 2025, diikuti oleh Melbourne (3%), Greater Hanoi (3%), dan Greater Ho Chi Minh City (2,8%).
Dalam laporan Knight Frank Asia-Pacific tersebut juga dijelaskan bahwa perusahaan logistik saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, dengan menambah ruang secara bertahap sesuai kebutuhan, sehingga lebih banyak permintaan terhadap ruang yang fleksibel dan skema sewa kontrak, dibandingkan langsung menyewa ruang berskala besar.
Fenomena ini tidak terlepas dari perubahan strategi rantai pasokan global, seperti strategi China+n yang mendorong perusahaan multinasional untuk menyebar basis manufaktur ke Asia Tenggara dan India guna memitigasi risiko geopolitik dan ketidakpastian tarif. Dalam proses tersebut, perusahaan membutuhkan mitra logistik yang fleksibel serta siap mendukung ekspansi lintas negara, sehingga peran 3PL menjadi semakin penting.
Sejalan dengan kondisi tersebut, sektor e-commerce juga diproyeksikan terus tumbuh seiring meningkatnya belanja digital dan kebutuhan pengiriman cepat. Tercermin dari data Bank Indonesia yang mencatat nilai transaksi e-commerce tumbuh 2,32% YoY menjadi Rp44,4 triliun sepanjang Januari - Juli 2025.
Bagi investor dan pengembang, kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan tidak hanya tertuju pada gudang modern dengan kualitas bangunan dan dukungan teknologi yang baik, tetapi juga pada lokasi yang strategis secara marketability, khususnya di wilayah dengan pertumbuhan sektor logistik yang kuat.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://kfmap.asia/research/asia-pacific-logistics-highlights-h2-2025/4700
https://www.logos3pl.com/
https://www.ibai.or.id/