Memasuki tahun 2026, cara generasi muda mencari rumah mengalami perubahan besar. Jika dulu proses pencarian properti identik dengan datang langsung ke lokasi atau menghubungi agen, kini Gen Z justru memulai semuanya dari layar ponsel. Media sosial seperti TikTok dan Instagram bukan hanya menjadi hiburan, tetapi berubah menjadi sumber utama berbagai informasi, termasuk referensi properti. Fenomena ini menunjukkan bagaimana digital buying journey semakin mendominasi keputusan hunian generasi muda.
Perubahan perilaku tersebut juga tercermin dalam komposisi pasar properti. Pada tahun 2025, segmen usia 45-54 tahun tercatat sebagai kelompok dengan kontribusi terbesar dalam pembelian rumah, mencapai 26,5% karena kondisi finansial yang sudah lebih mapan. Meski demikian, peran generasi muda tetap signifikan. Kelompok usia 25-34 tahun, yang mencakup Gen Z tahap awal dan milenial, menyumbang sekitar 25,5% dari keseluruhan permintaan. Sementara itu, calon pembeli berusia 18-24 tahun juga menunjukkan partisipasi yang cukup kuat dengan porsi sebesar 21,3%.
Bagi generasi muda, mencari rumah bukan sekadar soal harga dan lokasi, tetapi juga pengalaman visual dan relevansi gaya hidup. Konten video pendek yang menampilkan rumah mungil, apartemen estetik, hingga konsep co-living sering kali lebih menarik dibandingkan brosur formal. Lewat TikTok dan Instagram, misalnya, banyak kreator membagikan tur rumah dengan gaya santai, jujur, dan apa adanya.
Pengembang dan agen properti mulai menyadari bahwa Gen Z lebih nyaman melakukan eksplorasi awal secara daring. Tur virtual 360 derajat, video walkthrough, hingga siaran langsung dari lokasi rumah memungkinkan calon pembeli menilai properti tanpa harus datang langsung. Bagi Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan dan efisiensi, metode ini dianggap praktis sekaligus hemat waktu dan biaya.
Selain itu, keputusan pembelian juga banyak dipengaruhi oleh user-generated content (UGC). Review jujur dari penghuni, cerita pengalaman menyewa atau membeli rumah, hingga tips mengatur ruang dari kreator lebih dipercaya dibandingkan iklan resmi. Gen Z cenderung mengandalkan rekomendasi berbasis pengalaman, terutama dari kreator yang dianggap relate dengan kehidupan mereka.
Menariknya, media sosial tidak hanya berperan sebagai alat pencarian, tetapi juga sebagai ruang diskusi. Kolom komentar sering menjadi tempat bertanya seputar harga, lingkungan, akses transportasi, hingga keamanan. Interaksi ini menciptakan ekosistem informasi yang dinamis sebelum mengambil keputusan besar seperti membeli rumah.
Di tahun 2026, tren ini diprediksi akan semakin menguat. Pengembang yang dapat beradaptasi dengan pola konsumsi digital diprediksi akan unggul di pasar. Bagi generasi muda, media sosial telah menjadi kompas awal dalam perjalanan menuju hunian pertama. Tahun baru bukan lagi hanya soal resolusi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dan media sosial dimanfaatkan untuk inovasi pembangunan, termasuk dalam bidang properti.
Penulis: Farah Septiawardahni
Sumber:
https://www.rumah123.com/
https://perkim.id/
https://www.cimanggisgolfestate.com/