Dari Hotel ke Homestay: Membaca Pergeseran Preferensi Wisatawan saat Lebaran

Tuesday, 31 March 2026

Fenomena turunnya okupansi hotel di Yogyakarta selama libur Lebaran 2026 menghadirkan sinyal penting bagi sektor properti. Di tengah lonjakan kunjungan wisata, seperti di Gunungkidul yang mencapai lebih dari 230 ribu wisatawan dalam beberapa hari, tingkat okupansi hotel tidak mengalami lonjakan. Berdasarkan data dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) wilayah Yogyakarta, rata-rata okupansi hotel dalam periode libur Lebaran 2026 hanya sekitar 40-65%. Terjadi penurunan angka dari tahun sebelumnya, menurut Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo.

Akar fenomena ini terletak pada pergeseran preferensi wisatawan. Alih-alih menginap di hotel, banyak pengunjung memilih tinggal di rumah kerabat atau akomodasi dengan nuansa kekeluargaan seperti vila atau homestay. Momentum Lebaran yang identik dengan kebersamaan memperkuat preferensi tersebut. Dalam konteks ini, akomodasi bukan lagi sekadar tempat tidur, melainkan ruang sosial yang menghadirkan kehangatan, kedekatan, dan pengalaman tinggal “seperti di rumah”.

Dari perspektif pengembangan properti, khususnya di kota-kota selain Jakarta, fenomena ini membuka peluang strategis yang selama ini kurang dimanfaatkan. Banyak rumah atau lahan idle di kota sekunder dan kawasan wisata yang dapat dikonversi menjadi homestay skala kecil. Berbeda dengan hotel dengan bangunan bertingkat tinggi yang membutuhkan investasi besar dan risiko yang tinggi, homestay menawarkan model yang lebih fleksibel, adaptif, dan berbasis pengalaman.

Secara konsep, homestay berada di antara hotel dan hostel. Homestay cenderung lebih privat dibandingkan dengan hostel serta lebih personal dan sederhana dibandingkan dengan hotel. Pengalaman tinggal bersama tuan rumah atau berbarengan dengan kerabat lainnya, desain yang homey, serta interaksi sosial yang timbul dapat menjadi nilai jual yang sulit ditiru oleh hotel konvensional.

Bagi pemilik properti, pendekatan ini dapat dimulai dari skala mikro dengan mengoptimalkan rumah kedua, properti warisan, atau bahkan sebagian ruang hunian menjadi unit sewa jangka pendek. Dengan desain yang hangat, fasilitas dasar yang memadai, serta branding lokal melalui storytelling budaya, kuliner, dan aktivitas sekitar, homestay dapat menjadi produk hospitality yang kuat tanpa harus bersaing langsung dengan hotel besar.

Lebih jauh, tren ini juga sejalan dengan perubahan gaya hidup pascapandemi. Wisatawan cenderung mencari pengalaman autentik, ruang yang lebih privat, dan suasana yang tidak terlalu formal. Di kota-kota seperti Yogyakarta, Malang, atau bahkan kota kecil berbasis wisata alam, model akomodasi ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. 

Dengan kata lain, penurunan okupansi hotel bukan semata tanda pelemahan sektor properti, melainkan sinyal pergeseran, atau diversifikasi permintaan yang muncul saat ini.

 

Penulis : Nareswari Dahayu

Sumber :

https://kfmap.asia/blog/staycation-dan-road-trip-menjadi-pilihan-berwisata-aman-saat-pandemi/934

https://jogjapolitan.harianjogja.com/

https://travel.kompas.com/

Share:
Back to Blogs