10 Juta Pemudik Beralih ke Transportasi Umum: Apa Peran First & Last Mile?

Tuesday, 31 March 2026

Fenomena mudik Lebaran 2026 menunjukkan adanya pergeseran preferensi masyarakat Indonesia terhadap moda transportasi. Data Kementerian Perhubungan mencatat, pada 13–21 Maret 2026 terdapat sekitar 10,8 juta pemudik yang menggunakan transportasi umum, meningkat 8,58% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Kereta api menjadi moda yang paling banyak digunakan dengan 3.349.343 penumpang, diikuti oleh angkutan penyeberangan (2,6 juta pemudik), angkutan udara (2,3 juta pemudik), angkutan bus (1,6 juta pemudik), dan angkutan laut (783 pemudik).

Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan tingginya kebutuhan mobilitas, tetapi juga menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada transportasi publik. Salah satu faktor utama yang mendorong pergeseran ini adalah meningkatnya konektivitas first-mile dan last-mile, khususnya di wilayah metropolitan, seperti Jakarta.

Dalam sistem transportasi modern, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh moda utama seperti kereta api atau pesawat, tetapi juga oleh kemudahan akses dari dan menuju moda tersebut. Dengan kata lain, konektivitas first-mile dan last-mile menjadi pertimbangan penting dalam memilih transportasi publik atau tetap menggunakan kendaraan pribadi.

Fenomena ini juga tercermin dalam studi Regional Rapid Transit System (RRTS) oleh Knight Frank India, yang menunjukkan tingkat kepuasan pengguna transportasi publik mencapai 83%, didorong oleh efisiensi waktu, peningkatan produktivitas, dan keselamatan. Namun, studi ini menegaskan bahwa di balik tingginya kepuasan tersebut, tantangan utama tetap terletak pada konektivitas first-mile dan last-mile.

Temuan tersebut sejalan dengan perkembangan sistem transportasi di Jakarta yang mendorong integrasi antarmoda. Dalam konteks mudik, perjalanan tidak dimulai dari stasiun atau bandara, melainkan dari rumah, sehingga konektivitas first-mile menjadi sangat krusial. Untuk menjawab kebutuhan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengoptimalkan layanan feeder, seperti TransJakarta dan Mikrotrans guna menjangkau kawasan permukiman.

TransJakarta sebagai salah satu tulang punggung transportasi publik di Jakarta saat ini, mengoperasikan 14 koridor selama 24 jam dan terhubung langsung dengan terminal utama, seperti Terminal Pulo Gebang, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Tanjung Priok, dan Terminal Kalideres. Selain itu, layanan ini juga menyediakan akses langsung ke Bandara Soekarno-Hatta melalui rute SH1 (Kalideres - Perkantoran Bandara Soetta) dan SH2 (Blok M - Bandara Soetta).

Integrasi juga diperkuat di simpul transportasi kereta api, seperti Stasiun Gambir dan Stasiun Pasar Senen, yang terhubung dengan berbagai moda transportasi lanjutan, seperti TransJakarta, Mikrotrans, dan transportasi online.

Untuk pemudik yang menggunakan transportasi laut, akses menuju Pelabuhan Tanjung Priok didukung oleh KRL Commuter Line melalui jalur Jakarta Kota–Tanjung Priok yang berhenti di Stasiun Tanjung Priok, yang dapat dilanjutkan menggunakan TransJakarta (koridor 10, 10A, 10D, 12, dan 14B) serta Mikrotrans (JAK01, JAK15, JAK29, dan JAK77).

Sementara itu, akses menuju bandara juga semakin mudah melalui integrasi antara KRL Commuter Line dan KA Bandara Soekarno-Hatta. Pemudik dapat transit di Stasiun BNI City, Stasiun Manggarai, atau Stasiun Duri sebelum melanjutkan perjalanan ke Stasiun Bandara Soekarno-Hatta. 

Hal ini menegaskan bahwa konektivitas first-mile dan last-mile menjadi salah satu kunci dalam mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum, terutama saat terjadinya masa puncak mobilitas, seperti mudik Lebaran.

 

Penulis : Ratih Putri Salsabila

Sumber : 

https://www.knightfrank.co.in/research/regional-rapid-transit-system-testing-the-commuters-pulse-2025-12576.aspx

https://kemenhub.go.id/

https://news.detik.com/

https://www.kompas.tv/

Share:
Back to Blogs