Knight Frank baru saja merilis publikasi tahunan berskala global bertajuk The Wealth Report 2026 yang membahas kekayaan global seperti pertumbuhan HNWI (High Net Worth Individual) dan UNHWI (Ultra High Net Worth Individual) atau yang lebih dikenal dengan crazy rich. Publikasi ini juga membahas tren investasi properti high-end hingga aliran modal antarindividu, kelompok, dan negara.
Selain itu, publikasi ini juga mengangkat sejumlah topik menarik lainnya, salah satunya adalah ruang angkasa yang diproyeksikan akan menjadi salah satu peluang investasi bagi investor besar di masa mendatang.
Sebagai pembuka, Knight Frank melalui The Wealth Report 2014 pernah memprediksi inovasi mobilitas global. Sementara itu, pada tahun 2022, diproyeksikan wisata antariksa massal akan hadir pada tahun 2025, diikuti hotel di bulan pada tahun 2075 dan kota di Mars pada tahun 2117.
Hingga tahun 2025, wisata antariksa masih terklasifikasikan sebagai pilot project yang dipopulerkan oleh selebriti papan atas seperti Katy Perry. Meskipun wisata tersebut belum dilakukan secara massal dan termasuk dalam instrumen investasi yang belum scalable, perjalanan antariksa telah benar-benar terjadi pada tahun 2025.
Terlepas dari belum masifnya komersialisasi ruang tersebut, ruang antariksa telah memberi dampak nyata terhadap ekonomi, termasuk properti. Infrastruktur seperti satelit mendorong konektivitas global serta mendukung pelaporan ekonomi, pemantauan lingkungan, dan strategi ketahanan iklim. Peluang investasinya pun berkembang secara tidak langsung melalui infrastruktur data, platform analitik, dan penyedia intelijen satelit.
Bahkan, Goldman Sachs memproyeksikan pasar satelit akan tumbuh hingga tujuh kali lipat pada tahun 2035, seiring penurunan biaya peluncuran dari sekitar USD 12.000/kg menjadi USD 100/kg yang membuka akses investasi lebih luas.
Selain satelit, antariksa juga menawarkan keunggulan unik lainnya seperti microgravity dan ruang hampa. Kondisi ini memungkinkan proses manufaktur berpresisi tinggi, terutama untuk material semikonduktor, yang tidak mungkin diproduksi di Bumi. Potensi ini relevan dengan meningkatnya kebutuhan akan komputasi canggih, termasuk pengembangan AI dan sistem pertahanan.
Salah satu contoh konkret datang dari Space Forge, yang mengklaim telah mengantongi lisensi manufaktur luar angkasa pertama di Inggris. Kemajuan ini ditandai dengan peluncuran ForgeStar-1 pada Juni tahun 2025, sebuah satelit mikro yang dirancang untuk menguji teknologi manufaktur di orbit.
Meski menunjukkan prospek yang menjanjikan, aktivitas manufaktur di luar angkasa masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari biaya produksi yang tinggi, kompleksitas pengembalian kargo ke Bumi, hingga keterbatasan tenaga ahli yang masih bergantung pada pengiriman dari Bumi.
Dalam kepastian yang perlahan, ekspansi investasi ke antariksa merupakan peluang yang kian nyata, meski realisasinya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Di tengah keterbatasan ruang di Bumi dan meningkatnya kompleksitas aktivitas ekonomi, antariksa mulai diposisikan sebagai new frontier, bukan hanya untuk eksplorasi, tetapi juga sebagai ruang yang bernilai. Berbagai proyek awal yang telah terealisasi menjadi sinyal positif sekaligus fondasi bagi berkembangnya ekosistem di antariksa ke depan.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/research/the-wealth-report-2026/4895