Stimulus Kuartal IV 2026: Mendorong Daya Beli dan Menggerakkan Pasar Properti

Friday, 9 October 2026

Memasuki kuartal IV 2026, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai sekitar Rp31 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV berada di atas 5,4–5,5%. Di tengah pemulihan pasar properti yang masih bertahap, kebijakan tersebut menjadi sinyal penting bagi permintaan hunian.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% (yoy) pada kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga menyumbang 53,32% terhadap PDB dan tumbuh 5,06% (yoy), melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 5,52%. Perlambatan inilah yang hendak digerakan melalui stimulus ekonomi.

Paket tersebut mencakup bantuan beras 10 kg per bulan senilai Rp17,5 triliun bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, serta Bantuan Subsidi Upah total Rp900 ribu bagi 13,3 juta pekerja. Pengurangan PPh Pasal 21 juga diperluas untuk 7,5 juta pekerja berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan.

Di sektor perumahan, fasilitas PPN DTP direncanakan berlanjut hingga 2027 untuk rumah sampai Rp2 miliar, dengan insentif atas bagian harga hingga Rp2 miliar untuk rumah berharga sampai Rp5 miliar.

Pemerintah juga menyiapkan KPR bersubsidi baru berbunga 6% bagi pekerja berpenghasilan tetap sekitar Rp17 juta dengan harga rumah hingga Rp500 juta, yang regulasinya masih disiapkan.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal II 2026 tumbuh 0,69% (yoy), sedikit di atas kuartal sebelumnya sebesar 0,62%. Penjualan properti residensial primer masih terkontraksi 2,36% (yoy), namun jauh membaik dari kontraksi 25,67% pada kuartal I.

Kendala terbesar pengembang adalah kenaikan harga bahan bangunan (27,10%), diikuti suku bunga KPR (15,96%) dan perizinan (14,87%). Nilai KPR tumbuh 4,70% (yoy), sedikit melambat dari 4,79% pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, penelitian Knight Frank Indonesia terkait salah satu sektor residensial, yaitu strata kondominium, menemukan bahwa pasokan kondominium di Jakarta mencapai 249.107 unit pada semester I 2026 dengan tingkat penjualan kumulatif 96,3%. Segmen middle, upper middle, dan high-end masing-masing menyumbang 39%, 25%, dan 21% penjualan. Kondisi ini merefleksikan soften market yang telah terjadi bahkan sebelum pandemi.

Dengan demikian, efektivitas stimulus terhadap pasar properti sangat diharapkan mampu mendorong dan memperbaiki performa sektor properti residensial, namun implementasinya akan bergantung pada ketepatan waktu penyaluran, kesiapan regulasi KPR bersubsidi, kuatnya permintaan end-user, dan daya ungkit stimulus dalam menggerakkan pasar properti.

 

Penulis : Roki Abdillah

Sumber :

https://kfmap.asia/blog/kelas-menengah-di-q1-2026-masih-menopang-properti-residensial-indonesia/4992

https://www.cnbcindonesia.com/

https://www.bps.go.id/

https://www.ekon.go.id/

https://www.antaranews.com/

https://www.bi.go.id/

Share:
Back to Blogs