Silver Economy Tumbuh, Kesenjangan Hunian Lansia Buka Peluang Properti

Friday, 4 September 2026

Indonesia resmi memasuki fase ageing population pada 2025. Menurut SUPAS 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi lansia mencapai 11,97% dari total 284,67 juta jiwa penduduk, atau sekitar 34 juta orang berusia 60 tahun ke atas. Pergeseran demografi ini turut mendorong berkembangnya silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang tumbuh seiring kebutuhan populasi lansia, bukan sekadar cerminan jumlah penduduknya semata.

BPS memproyeksikan proporsi lansia akan terus naik hingga 20,31% dari total populasi pada 2045, sementara rasio ketergantungan penduduk saat ini sudah mencapai 45,05. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk usia nonproduktif. Tren ini menegaskan bahwa kebutuhan terkait populasi lansia, termasuk soal hunian, akan menjadi isu struktural jangka panjang, bukan semata fenomena sementara.

Pertumbuhan populasi lansia idealnya diikuti oleh ketersediaan hunian yang memadai, namun kondisi hunian nasional secara umum masih menghadapi tantangan besar. BPS mencatat 24,03% atau 18,01 juta rumah tangga di Indonesia masih menghuni rumah yang belum layak huni per Maret 2026. 

Di tengah kondisi ini, ketersediaan fasilitas perawatan formal maupun konsep hunian senior living terintegrasi bagi lansia di Indonesia masih relatif terbatas. Kesenjangan hunian lansia ini berpotensi menjadi ruang pengembangan properti baru.

Riset Knight Frank Asia-Pacific mencatat tren yang berbeda di kawasan regional. Investasi pada living sector, termasuk senior housing, hampir tiga kali lipat dalam sembilan tahun terakhir, mencapai US$21 miliar pada 2025 dengan lonjakan 49% secara tahunan. Meski Asia-Pasifik menampung sekitar 60% populasi dunia, kawasan ini baru menyerap 12% modal global yang dialokasikan untuk sektor riil pada 2025. Ketimpangan ini menunjukkan ruang pertumbuhan investasi yang masih terbuka, termasuk sebagai konteks bagi pengembangan segmen hunian lansia di Indonesia.

Bagi sektor properti Indonesia, kondisi ini membuka opsi pengembangan produk baru yang belum banyak tergarap, mulai dari fasilitas perawatan berstandar modern, apartemen ramah lansia dengan aksesibilitas dan layanan kesehatan terintegrasi, hingga konsep ageing in place, yaitu desain hunian yang memungkinkan lansia tetap tinggal mandiri di lingkungan familiar dengan dukungan aksesibilitas dan layanan pendukung. Pengembangan segmen ini dapat menjadi salah satu opsi diversifikasi produk bagi pelaku properti, seiring dengan potensi permintaan hunian yang berkembang secara bertahap mengikuti perubahan struktur demografi. 

Tidak bisa dipungkiri, senior living akan berkembang seiring kebutuhan, budaya masyarakat setempat, penyesuaian regulasi, model pembiayaan, dan preferensi budaya masyarakat. Tren penuaan penduduk memang merupakan kondisi antara tantangan dan peluang. Di antara peluang ada area pertumbuhan baru untuk silver ages di sektor properti Indonesia.

 

Penulis: Junilla Tristanti

Sumber:

https://apac.knightfrank.com/livingsector 

https://indonesia.unfpa.org/ 

https://tirto.id/ 

https://www.bps.go.id/

https://www.kompas.tv/ 

Share:
Back to Blogs