Lansia Tinggal Bersama Keluarga, Apakah Multigenerational House Jawabannya?

Friday, 20 February 2026

Selama ini, rumah ideal kerap digambarkan sebagai tempat tinggal yang nyaman secara luas untuk dihuni oleh keluarga inti, yaitu ayah, ibu, dan anak-anak. Namun, realitas di Indonesia menunjukkan gambaran yang berbeda. 

Pada tahun 2017, PBB mencatat bahwa 56,7% lansia di Indonesia tinggal bersama keluarga besarnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa sekitar 70% lansia masih tinggal bersama anak dalam rumah tangga multigenerasi.

Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kuatnya keterikatan emosional antara orang tua dan anak. Di usia lanjut, orang tua cenderung lebih rentan dan membutuhkan dukungan keluarga agar tetap merasa aman dan terawat. Di sisi lain, anak kerap memikul tanggung jawab moral untuk mendampingi orang tua mereka. Di Indonesia, senior living atau panti jompo masih dipandang tabu karena adanya stigma seolah-olah menitipkan orang tua berarti “membuang” mereka.

Lantas, di tengah dinamika sosial dan kebutuhan ruang yang semakin kompleks, opsi hunian seperti apa yang dapat menjawab kebutuhan lintas generasi ini?

Multigenerational house atau rumah multigenerasi secara sederhana dapat diartikan sebagai hunian yang dihuni oleh dua atau lebih generasi dalam satu keluarga yang tinggal bersama. Umumnya, rumah ini ditempati oleh kakek-nenek, orang tua, dan anak-anak yang berbagi satu tempat tinggal yang sama. Dalam beberapa kasus, anggota keluarga besar lainnya seperti paman, bibi, maupun sepupu juga turut tinggal di satu atap.

Jenis hunian multigenerasi menawarkan sejumlah keuntungan, baik dari sisi ekonomi maupun dinamika keluarga. Berikut beberapa manfaat utamanya,

  • Efisiensi Biaya Hunian

Tinggal dalam rumah multigenerasi memungkinkan pembagian biaya seperti listrik, air, pajak, dan perawatan rumah, sehingga lebih hemat. Namun, diperlukan kesepakatan yang jelas agar pembagian tanggung jawab tetap adil.

  • Dukungan keluarga dalam kehidupan sehari-hari

Kakek-nenek dapat membantu mengasuh cucu, sementara generasi muda mendukung orang tua dalam kebutuhan harian atau urusan kesehatan. Pola ini menciptakan dukungan timbal balik sekaligus mempererat hubungan keluarga.

  • Efisiensi penggunaan ruang

Ruang dalam rumah multigenerasi dapat digunakan secara multifungsi seperti untuk berkumpul, bersantai, hingga bekerja, sehingga lebih efisien dan adaptif terhadap kebutuhan bersama.

Di balik berbagai kelebihannya, model hunian ini juga memiliki beberapa kekurangan seperti keterbatasan privasi, potensi konflik antar penghuni, serta kebutuhan perencanaan yang matang dari sisi regulasi dan desain.

Pada akhirnya, keputusan untuk tinggal bersama lintas generasi memerlukan kesepakatan dan pertimbangan yang matang. Selain kesiapan emosional, desain hunian juga perlu dirancang cermat agar setiap anggota keluarga tetap memiliki ruang pribadi tanpa kehilangan kedekatan/keakraban.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://databoks.katadata.co.id/

https://magdalene.co/

https://www.ikea.co.id/

Share:
Back to Blogs