RISE Tower: Wujud Ambisi Arab Saudi dalam Kompetisi Pencakar Langit di Timur Tengah

Friday, 29 May 2026

Gelar gedung tertinggi di dunia yang dipegang Burj Khalifa selama belasan tahun akan segera direbut. Arab Saudi saat ini sedang bersiap mencetak sejarah lewat rencana pembangunan RISE Tower di ibu kota Riyadh. 

Melansir Timeout Dubai, proyek gedung pencakar langit ini dirancang setinggi 2 kilometer (2.000 meter), dua kali lipat lebih tinggi dari Burj Khalifa yang memiliki ketinggian 828 meter. RISE Tower dirancang memiliki 678 lantai yang akan berisi fasilitas premium seperti deretan hotel mewah, restoran fine-dining, dek observasi tertinggi di dunia, serta ruang perkantoran eksklusif untuk menarik minat dan menyerap uang dalam jumlah besar dari para investor serta perusahaan asing di seluruh dunia.

Proyek gedung pencakar langit ini didukung oleh Dana Investasi Publik Arab Saudi dan dipersiapkan menjadi pusat pengembangan kawasan futuristik seluas 306 kilometer persegi bernama North Pole, sebuah kota vertikal yang mampu menampung lebih dari 50.000 orang dengan fasilitas lengkap, mulai dari hunian, perkantoran, hotel, hingga layanan transportasi.

Sementara itu, pembangunan RISE Tower diperkirakan menelan biaya US$5 miliar atau setara dengan Rp89,37 triliun, tiga kali lipat lebih tinggi dari biaya pembangunan gedung tertinggi di dunia saat ini, Burj Khalifa, yang menelan biaya US$1,5 miliar. 

Meski rencana pembangunan telah disusun sejak 2023, proyek tersebut masih berada pada tahap desain sehingga belum mendekati jadwal konstruksi apalagi pembukaan resmi. Jika benar terwujud, RISE Tower dipastikan akan memecahkan rekor dunia sebagai gedung tertinggi yang pernah dibangun manusia.

Hadirnya proyek RISE Tower adalah bagian dari rencana pembangunan negara tersebut yang tertuang dalam Visi Saudi 2030. Visi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan negara pada minyak bumi dan mulai mengembangkan pusat bisnis dan pariwisata berskala global.

Dari sudut pandang properti, keinginan membangun gedung setinggi 2 kilometer ini tentu membawa tantangan yang cukup rumit. Konsep gedung pencakar langit membutuhkan teknologi mumpuni, tidak hanya saat pembangunan, tetapi juga saat proses pemeliharaan bangunan. 

Para pengembang wajib memikirkan secara matang aspek manajemen properti (property management). Hal ini termasuk pengaturan lift super cepat untuk mengakses lantai teratas, kekuatan bangunan untuk menahan angin kencang, hingga pemenuhan regulasi keselamatan bangunan dan tata letak ruang yang ketat.

Selain itu, tren membangun gedung pencakar langit di zaman sekarang tidak bisa lepas dari regulasi lingkungan. Penerapan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) akan menjadi hal yang sangat penting pada rencana pengembangan gedung ramah lingkungan di masa depan dengan indikator penghematan air dan energi pada operasional gedung.

Pada akhirnya, kehadiran proyek RISE Tower membuktikan bahwa persaingan properti bukan sekadar lomba memecahkan rekor gedung tertinggi saja. Proyek raksasa ini memberi tanda yang jelas bahwa kota Riyadh sedang bersiap merebut posisi Dubai dengan inovasi untuk menjadi pusat bisnis baru di Timur Tengah.

 

Penulis : Mu’amar Khadafi

Sumber : 

https://kfmap.asia/services/property-and-engineering-services/

https://www.cnnindonesia.com/

https://finance.detik.com/

https://international.sindonews.com/

https://www.kompas.com/

https://serpong.inews.id/

https://www.timeoutdubai.com/

Share:
Back to Blogs