Bagi pekerja Jakarta, pertanyaan “mending KPR atau sewa?” adalah dilema yang terus berulang setiap awal bulan. Dengan harga rumah tapak di Jakarta yang sudah mencapai rata-rata Rp2,5 miliar, pilihan realistis bergeser ke pinggiran: Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Namun, keputusan ini bukan cuma soal finansial, tapi juga gaya hidup, kesehatan mental, dan seberapa tinggi Anda menghargai waktu. Di sinilah dua skenario besar muncul: menjadi “pejuang KRL/tol” demi rumah, atau menjadi “pejuang sewa” di apartemen mungil dekat kantor.
Skenario A: Beli Rumah di Pinggiran – Mainnya Jangka Panjang
Secara investasi, membeli rumah di pinggiran sangat logis. Anda membangun aset nyata yang nilainya cenderung naik, terutama di koridor dengan pembangunan infrastruktur baru. Setiap cicilan yang dibayar pelan-pelan berubah menjadi ekuitas, bukan sekadar biaya bulanan.
Namun, mimpi ini mahal. Anda harus menyiapkan DP besar di awal, ditambah biaya KPR dan notaris. Selain itu, Anda terikat utang 15–25 tahun, yang membatasi fleksibilitas karir. Kerugian terbesar adalah Biaya Komuter Tersembunyi. Perjalanan 1–2 jam sekali jalan menambah beban tol, bensin, dan kelelahan mental, yang jika dijumlahkan, seringkali membuat total pengeluaran Anda (Cicilan + Komuter) lebih besar daripada biaya sewa.
Skenario B: Sewa Dekat Kantor – “Kaya Waktu”
Walaupun sewa sering dicap "uang hangus," memilih sewa dekat kantor adalah cara membeli satu komoditas paling mahal di Jakarta: waktu. Dengan jarak tempuh 15–30 menit, Anda menghemat 40–60 jam waktu hidup per bulan yang terselamatkan dari kemacetan. Jam-jam ini bisa dialokasikan untuk istirahat, hobi, atau mengembangkan bisnis sampingan.
Secara cashflow, sewa lebih ringan di awal, dana yang seharusnya menjadi DP bisa dialihkan ke instrumen investasi yang lebih likuid. Fleksibilitas ini cocok bagi profesional muda yang karirnya masih dinamis. Kekurangannya, unit properti umumnya kecil dan harga sewa akan selalu naik tanpa menghasilkan sertifikat di tangan.
Lalu, Harus Pilih yang Mana?
Jawabannya terletak pada prioritas Anda saat ini.
Jika Anda berada di fase karier yang stabil, siap berkompromi dengan stres perjalanan, dan fokus utama adalah membangun kekayaan jangka panjang, rumah pinggiran adalah pilihan rasional.
Sebaliknya, jika Anda menghargai kesehatan mental, fleksibilitas tinggi, dan menganggap 60 jam waktu ekstra per bulan jauh lebih berharga daripada tambahan ekuitas, maka sewa dekat kantor adalah keputusan yang paling masuk akal.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “mending cicilan atau kontrakan?”, tapi apakah sertifikat rumah di pinggiran sebanding dengan waktu hidup Anda yang hilang di jalan pada fase hidup Anda yang sekarang?
Penulis: Arief Fadhillah
Sumber:
https://www.kompas.com/
https://www.detik.com/
https://www.detik.com/
https://www.primetimenews.co.id/
https://www.cnbcindonesia.com/