Potensi Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Batam

Friday, 6 November 2026

Bulan Oktober lalu, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2026, Batam mengalami blackout selama satu sampai dua hari. Akibatnya, terdapat beberapa aktivitas masyarakat yang terhenti, baik aktivitas sosial maupun aktivitas industri manufaktur. Beberapa portal berita menyebutkan bahwa  kejadian ini kemungkinan disebabkan oleh banyak hal, seperti aktivitas hewan liar, aktivitas data center yang melebihi kapasitas suplai listrik, hingga aktivitas di area gardu yang memadamkan listrik.

Di sisi lain, pemerintah bersama PT PLN Batam merencanakan untuk meningkatkan pasokan energi di Batam melalui diversifikasi pasokan energi. Diversifikasi ini meliputi PLTG yang bersumber dari Natuna, PLTS terapung, dan pemanfaatan Battery Energy Storage System (BESS) yang akan dikembangkan pada tahun 2027. Rencana ini dapat menambah pasokan listrik hingga 1,300 MW dari 930 MW di Kota Batam.

Baru-baru ini, pemerintah mencanangkan rencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai salah satu diversifikasi energi tersebut. PLTN dapat berfungsi sebagai pemasok energi secara kontinu untuk aktivitas pusat data dan industri berteknologi tinggi lainnya yang sedang menggeliat di Kota Batam.

PLTN merupakan salah satu strategi dalam RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) PLN 2025–2034 untuk mendukung pencapaian kedaulatan energi nasional. Pengembangan PLTN telah masuk dalam pipeline dengan rencana operasi awal pada tahun 2032 dan kapasitas sekitar 500 MW. Kapasitas tersebut juga ditargetkan meningkat hingga 7 GW pada 2040, sebelum mencapai 35 GW pada 2060.

PLN akan merencanakan dua tipe PLTN, yakni PLTN berskala kecil atau Small Modular Reactor (SMR) dan PLTN berskala besar. SMR direncanakan berlokasi di Sumatra dan Kalimantan, sedangkan PLTN berkapasitas besar direncanakan di Pulau Jawa dan juga Batam dengan potensi permintaan suplai listrik yang meningkat karena aktivitas data center.

PT Pembangkit Listrik Nuklir bekerja sama dengan perusahaan nuklir asal Rusia, Rosatom, untuk mencapai target ini. Kini, Halmahera menjadi lokasi kajian pengembangan PLTN terapung dengan kapasitas 200 MW. Ketika kajian tersebut berhasil, kajian akan diperluas ke Sumatra dan Kepulauan Riau.

Penyiapan kajian pengembangan PLTN di Indonesia perlu dilakukan secara mendalam dan berhati-hati dengan mempertimbangkan aspek keselamatan serta dampak lingkungan. Kecelakaan PLTN Chernobyl di Ukraina pada 1986 menjadi salah satu contoh bagaimana kegagalan operasional dapat menimbulkan dampak lintas wilayah. Pelepasan material radioaktif menyebar ke sejumlah negara di Eropa, menyebabkan sekitar 116.000 penduduk dievakuasi pada tahun 1986 dan 220.000 lainnya direlokasi pada tahun-tahun berikutnya.

Ironisnya, Batam memiliki posisi strategis, seperti terletak di Selat Malaka, jalur perdagangan internasional, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sekaligus menjadi salah satu pusat industri manufaktur di Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan infrastruktur energi ini harus mempertimbangkan risiko terhadap masyarakat, lingkungan, dan aktivitas industri. Dengan standar keselamatan yang memadai, pasokan energi yang andal diharapkan dapat mendukung pertumbuhan industri berteknologi tinggi dan pusat data di Batam.


Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/apa-saja-lesson-learned-dari-kondisi-batam-saat-ini/5362

https://www.bloombergtechnoz.com/

https://artsandculture.google.com/

https://www.cnbcindonesia.com/

https://regional.kompas.com/

https://ekonomi.bisnis.com/

https://www.tempo.co/

https://gokepri.com/

Share:
Back to Blogs
© 2026 PT Willson Properti Advisindo. KFMap.