Momentum penting bagi ketahanan energi Batam terjadi pada 27 Oktober 2026, ketika PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berhasil mengalirkan gas bumi dari Natuna ke Batam melalui jaringan pipa West Natuna Transportation System (WNTS)-Pemping.
Capaian yang bertepatan dengan Hari Listrik Nasional ke-81 ini menandakan babak baru pemanfaatan gas Natuna untuk kebutuhan domestik, setelah bertahun-tahun mayoritas gas hanya mengalir ke pasar ekspor Singapura.
Secara teknis, pipa bawah laut WNTS Pemping memiliki panjang sekitar 4,5 kilometer dengan diameter 16 inci dan kapasitas desain mencapai 300 million standard cubic feet per day (MMSCFD), menghubungkan jaringan pipa WNTS dengan fasilitas penerima gas di Pulau Pemping, Kepulauan Riau.
Pada tahap awal, volume gas yang dialirkan mencapai 15 MMSCFD. Di samping itu, pemerintah memangkas sebagian ekspor gas ke Singapura dari Natuna sebesar 15 miliar British Thermal Unit per Day (BBTUD) dan dari Sumatra sebesar 16 BBTUD.
Dalam jangka pendek, pasokan tersebut membantu kebutuhan pembangkit listrik PLN Batam selama pemeliharaan terencana fasilitas Jambi Merang pada 24 Oktober hingga 3 November 2026. Sementara untuk jangka panjang, pasokan gas dari Lapangan Mako Natuna disiapkan mencapai 111 MMSCFD pada 2027, hal ini dapat memperkuat ketersediaan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mendukung keberlanjutan aktivitas industri di Batam.
Dari sisi legalitas, PLN EPI telah mengantongi Hak Khusus Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yang berlaku hingga 17 Oktober 2046, serta Izin Usaha Sementara Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dari Kementerian ESDM yang terbit pada 26 Oktober 2026.
Proyek tersebut turut melibatkan sejumlah entitas strategis, antara lain PT Transportasi Gas Indonesia, PT Medco E&P Natuna Ltd, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Pelayanan Energi Batam, dan PT Batam Trans Gasindo, dengan gas yang disalurkan hingga kawasan industri Tanjung Uncang di Batam.
Ketahanan pasokan energi semacam ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan properti industri di Batam. Kota tersebut tercatat memiliki 25 kawasan industri dengan luas total 2.002 hektare dan lebih dari 1.300 perusahaan beroperasi di dalamnya, dengan realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp69,30 triliun dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76%, lebih tinggi dari rerata nasional.
Ekspansi sektor data center di kawasan Nongsa, yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan besar, turut menjadi salah satu pendorong utama permintaan energi domestik yang kini dapat dijawab melalui diversifikasi pasokan gas yang berasal dari Natuna.
Dengan masuknya gas Natuna ke jaringan kelistrikan Batam, keandalan energi domestik diharapkan lebih kuat sehingga mampu menopang kepercayaan investor terhadap prospek properti industri, kawasan ekonomi khusus, dan infrastruktur digital di Batam dalam jangka panjang.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/batam-di-tengah-ekspansi-ekonomi-regional-memperkuat-sektor-industri/5279
https://www.antaranews.com/
https://kumparan.com/
https://www.inikepri.com/
https://sultramedia.com/
https://investortrust.id/