Industri Hijau: Peluang Batam dalam Pengembangan PLTS sebagai Sumber Energi Terbarukan

Friday, 25 September 2026

Dalam upaya mendorong pembangunan berkelanjutan dan memperkuat ketahanan energi, Indonesia menargetkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga mencapai kapasitas 100 GW dalam kurun waktu tiga tahun. Untuk merealisasikan target tersebut, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai sekitar Rp1,306 triliun.

Meskipun membutuhkan investasi yang besar, pengembangan PLTS berpotensi memberikan spillover effect bagi perekonomian, mulai dari peningkatan kapasitas energi listrik hingga munculnya peluang industri hijau dan green jobs.

Berbeda dengan sumber energi yang bergantung pada harga komoditas global, energi surya menawarkan sumber energi yang lebih stabil dari sisi biaya operasional setelah pembangkit beroperasi. Kondisi tersebut dapat mendukung kepastian energi bagi berbagai sektor industri, termasuk manufaktur dan industri berteknologi tinggi yang membutuhkan pasokan listrik secara kontinu.

Kepulauan Riau menjadi salah satu wilayah yang berpotensi mengambil bagian dalam pengembangan ini dengan potensi kontribusi hingga 2 GW. Fleksibilitas teknologi PLTS juga memungkinkan pengembangannya di berbagai lokasi, baik melalui sistem ground-mounted, terapung, maupun panel surya atap. 

Di Batam, salah satu pengembangan yang telah direncanakan adalah PLTS terapung di Waduk Sei Gong. Selain itu, PLTS ground-mounted berkapasitas 1,7 MW juga dikembangkan oleh Pertamina. Pengembangan PLTS juga direncanakan di sejumlah wilayah lain di Kepulauan Riau, termasuk Akar Panjang, Keranting, Pulau Tujuh, Sepohong, Daik, dan Karimun. Sementara itu, Pulau Sembur direncanakan memiliki PLTS berkapasitas 0,92 MWp.

Potensi tersebut turut didukung oleh keunggulan Batam sebagai lokasi pengembangan industri energi hijau. Statusnya sebagai free trade zone, keberadaan kawasan industri, infrastruktur yang terus berkembang, ekosistem manufaktur, serta ketersediaan skilled labor menjadi modal bagi pengembangan industri tersebut. 

Kedekatan Batam dengan Singapura dan Malaysia juga membuka peluang integrasi dengan pasar regional, seperti rencana ekspor pasokan listrik sebesar 3,4 GW kepada Singapura yang sedang direncanakan saat ini.

Namun, pengembangan industri energi hijau ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan ruang yang tepat, kepastian regulasi, kesiapan jaringan listrik, teknologi penyimpanan energi, serta kapasitas industri domestik dalam menyediakan komponen PLTS. Dari sisi perencanaan, target 100 GW tersebut juga belum tercantum dalam RUPTL 2025–2034, yang saat ini menargetkan pengembangan PLTS sebesar sekitar 17 GW.

Ketergantungan terhadap komponen impor juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk memastikan manfaat ekonomi tidak berhenti pada pembangunan pembangkit.

Dengan demikian, target PLTS 100 GW tidak hanya menjadi agenda untuk meningkatkan kapasitas energi bersih, tetapi juga peluang untuk membangun ekosistem industri baru. 

Bagi Batam, pengembangan PLTS ini dapat menjadi momentum untuk memperluas basis industri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan penguasaan teknologi, dan menghasilkan nilai tambah ekonomi, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri hijau.

 

Penulis: Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/listrik-dan-konektivitas-digital-fondasi-high-tech-industries-di-batam-dan-singapura/5287

https://hijau.bisnis.com/

https://batamtoday.com/

http://gokepri.com/

https://industri.kontan.co.id/

https://www.cnbcindonesia.com/

Share:
Back to Blogs