Beberapa hari yang lalu (12/10/2026), Batam mengalami pemadaman listrik dalam skala kota selama belasan jam yang kemudian mulai pulih secara bertahap di berbagai daerah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa blackout disebabkan oleh berbagai hal, seperti sambaran petir yang mengenai gardu induk, serangan hewan liar terhadap gardu, hingga lonjakan permintaan pasokan listrik.
PLN Batam selaku penyedia pasokan listrik menilai bahwa kondisi ini memberikan sinyal positif berupa meningkatnya aktivitas ekonomi daerah, yang tercermin dari kebutuhan listrik yang melampaui kapasitas pasokan. Oleh karena itu, PLN Batam dan pemerintah setempat perlu mengoptimalkan kapasitas pasokan listrik agar mampu memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus mengantisipasi peningkatan permintaan ke depannya.
Tak hanya itu, pemadaman ini juga berdampak negatif pada aktivitas industri. Salah satu pemilik kawasan industri di Batam menyampaikan bahwa aktivitas rantai pasok berupa distribusi barang ke lokasi pasar menjadi terganggu. Meskipun begitu, kawasan industri biasanya memiliki pembangkit listrik sendiri atau pembangkit listrik cadangan seperti genset, sehingga aktivitas produksi masih tetap berjalan.
Meski demikian, kawasan industri umumnya mengandalkan beberapa sumber listrik, seperti pasokan dari PLN dan pembangkit berbahan bakar gas alam. Jika salah satu sumber mengalami gangguan operasional, sumber lainnya dapat membantu menjaga kontinuitas pasokan listrik. Namun, kenaikan harga gas alam menjadi tantangan tersendiri, dari sebelumnya berkisar US$5–6 per MMBTU (Million British Thermal Unit) menjadi US$16 per MMBTU.
Kenaikan harga gas tersebut turut mendorong tarif listrik bagi pelaku industri di kawasan industri melampaui Rp3.000 per kWh, dari sebelumnya sekitar Rp1.850 per kWh pada awal tahun. Kondisi ini meningkatkan biaya operasional dan mengurangi daya saing dibandingkan dengan negara pesaing, seperti Malaysia.
Di sisi lain, industri kecil yang tidak memiliki genset atau pembangkit listrik mandiri berisiko harus menghentikan kegiatan produksi ketika terjadi gangguan pasokan listrik. Kondisi ini dapat menimbulkan kerugian akibat terhentinya operasional dan biaya produksi yang tidak dapat dihindari.
Dari kondisi di Batam yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Refleksi yang diperlukan adalah kesiapan infrastruktur kota perlu diperhatikan, dan diantisipasi peningkatan kebutuhannya dengan cermat. Kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha terhadap infrastruktur menjadi tanggung jawab pemerintah,
Terkait ketersediaan energi, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) juga perlu dipertimbangkan untuk mendukung pencapaian target nasional dalam RUPTL PLN, selain untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada, juga untuk perluasan penyediaan untuk kebutuhan masyarakat dan roda perekonomian kota.
Penulis: Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/listrik-dan-konektivitas-digital-fondasi-high-tech-industries-di-batam-dan-singapura/5287
https://www.kompas.id/
https://kepri.antaranews.com/
https://metropolis.batampos.co.id/
http://mediaindonesia.com/
https://wartaekonomi.co.id/
https://www.batamnews.co.id/
https://batamtoday.com/