Setelah hampir dua dekade menjadi bagian dari lanskap kota, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai membongkar tiang-tiang monorel yang mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu, 14 Januari 2026. Pembongkaran ini disaksikan langsung oleh Pramono Anung selaku Gubernur DKI Jakarta dan Sutiyoso sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1997 - 2007.
Pembongkaran dilakukan karena tiang-tiang beton tersebut telah berdiri tanpa fungsi dan dinilai mengganggu estetika kota, serta tidak memberikan manfaat publik. Proyek monorel Jakarta sendiri merupakan rencana sistem transportasi kereta layang yang digagas sejak awal 2000-an, dengan konstruksi dimulai pada tahun 2004.
Awalnya, proyek monorel Jakarta dirancang dengan dua koridor utama, yaitu Green Line yang menghubungkan Senayan-Kuningan-Casablanca dan Blue Line yang menghubungkan Kampung Melayu-Tanah Abang. Namun, pembangunannya terhenti pada tahun 2007, sehingga menyisakan sekitar 98 tiang monorel yang terbengkalai di koridor HR Rasuna Said dan Asia Afrika.
Pramono mengatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah mengalokasikan sekitar Rp254 juta untuk pembokaran tiang monorel, serta menyediakan anggaran sekitar Rp100 miliar dari APBD untuk penataan ulang kawasan, seperti perbaikan jalan, pembangunan trotoar, dan penyediaan ruang publik.
Dalam konteks tata kota, pembongkaran ini menjadi upaya memperbaiki kualitas citra kota. Menurut teori Kevin Lynch, citra kota terbentuk oleh lima elemen utama, yaitu path (jalur pergerakan), edge (batas wilayah), district (kawasan dengan karakter tertentu), nodes (titik pusat aktivitas), dan landmark (objek fisik yang mudah dikenali) yang harus jelas, terbaca, serta berfungsi dengan baik.
Proyek monorel Jakarta yang mangkrak justru menghadirkan kondisi sebaliknya, walau struktur tiang monorel terlihat secara fisik, tetapi tidak berfungsi sebagai path maupun nodes. Akibatnya, elemen tersebut menjadi visual yang ambigu, karena mudah dikenali tapi tidak memberikan informasi spasial yang bermakna. Dalam teori Kevin Lynch, kondisi ini melemahkan legibility (keterbacaan kota) dan mengganggu pembentukan citra kota yang utuh.
Tiang-tiang monorel yang terbengkalai juga berpotensi menciptakan edge yang tidak direncanakan, yaitu batas visual yang memecah ruang kota tanpa kejelasan fungsi, sehingga dapat menimbulkan kesan semrawut, mengaburkan identitas kawasan, dan menurunkan kenyamanan visual kota. Oleh sebab itu, pembongkaran tiang monorel Jakarta, berpotensi meningkatkan keteraturan dan keterbacaan struktur kota.
Agar berdampak positif secara berkelanjutan, pembongkaran harus diikuti dengan pemanfaatan ruang yang terintegrasi ke dalam sistem kota, seperti pengembangan koridor transportasi, ruang publik, atau elemen kota lainnya dengan fungsi yang jelas dibutuhkan oleh warga setempat. Komitmen tersebut tercermin dari langkah Pemprov DKI Jakarta yang telah menyiapkan anggaran untuk penataan kawasan di lokasi bekas tiang monorel berada.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://www.antaranews.com/
https://www.metrotvnews.com/
https://www.cnnindonesia.com/
https://www.kompas.com/
https://digilib.itb.ac.id/