Kehadiran jalur MRT sejak Fase 1 (Lebak Bulus-Bundaran HI) telah menjadi katalis penting dalam dinamika pasar properti di ibu kota. Infrastruktur transportasi massal tersebut tidak hanya meningkatkan mobilitas, tetapi juga mengubah pola aktivitas sedemikian rupa hingga merevitalisasi sejumlah pusat kegiatan ekonomi, bahkan membentuk pusat-pusat baru di sepanjang koridor layanannya.
Blok M menjadi salah satu contoh nyata perubahan tersebut. Kawasan yang semula sempat hilang pamornya kini mampu mencatat sekitar 480.000 pengunjung pada bulan November 2025, jika ditinjau dari jumlah ridership di Stasiun MRT Blok M saja. Lonjakan arus pergerakan manusia tersebut menunjukkan signifikansi keberadaan simpul transportasi massal dalam mengaktifkan kembali kawasan lama menjadi magnet aktivitas ekonomi baru.
Berkaca dari keberhasilan jalur MRT Fase 1, pengembangan jalur MRT Lin Timur-Barat Fase 2 (Kembangan-Balaraja) diproyeksikan akan membawa perubahan serupa meskipun berangkat dari kondisi eksisting yang berbeda. Jika jalur MRT Fase 1 cenderung beroperasi di kawasan pusat kota, MRT Fase 2 dirancang melintasi wilayah kota satelit yang lebih heterogen, mulai dari Jakarta Barat hingga Tangerang dan Balaraja, yang sebagian besar telah berkembang menjadi kawasan mandiri.
Koridor layanan baru tersebut direncanakan akan melewati sejumlah kawasan yang dikembangkan dengan fungsi hunian, komersial, dan rekreasi yang mandiri dan cenderung tertutup. Kehadiran jalur MRT berpotensi mengubah karakter kawasan tersebut dengan mengintegrasikannya dengan sistem metropolitan Jabodetabek berbasis transportasi massal.
Persetujuan keterlibatan sejumlah pengembang swasta dan pemerintah daerah dalam studi potensi jalur MRT Fase 2, yang ditandatangani pada awal Februari 2026, menunjukkan bahwa koridor layanan baru tidak hanya diposisikan sebagai proyek transportasi semata, tetapi juga sebagai pendongkrak nilai aset di sekitarnya. Stasiun MRT, khususnya di sepanjang jalur Fase 2, berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru yang mendorong intensifikasi lahan melalui pengadaan hunian vertikal, pusat ritel terintegrasi, bahkan fasilitas publik lainnya, selaras dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang kini marak dikembangkan.
Namun, skala dan karakter koridor ini juga tidak luput dari tantangan. Risiko oversupply properti di kota mandiri dapat terjadi apabila tidak diimbangi dengan pengembangan jaringan transportasi antarmoda yang terintegrasi. Selain itu, keberhasilan jalur MRT Fase 2 juga bergantung pada keselarasan tata ruang antarwilayah dan kepastian kerja sama antara pemerintah daerah dan swasta.
Dengan perencanaan yang matang, MRT jalur Timur-Barat Fase 2 berpotensi menjadi tulang punggung baru dalam sistem metropolitan Jabodetabek, sekaligus membentuk pola pertumbuhan properti yang terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Penulis : Nareswari Dahayu
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/prospek-properti-di-koridor-mrt/4596
https://kfmap.asia/blog/bagaimana-tod-menghidupkan-kembali-blok-m-urban-hub-paling-hits-bagi-gen-z-jakarta-saat-ini/4470
https://www.jakartamrt.co.id/
https://jakartamrt.co.id/