Fenomena El Niño kembali menjadi ancaman nyata bagi Batam pada tahun 2026, kota yang sepenuhnya bergantung pada air hujan sebagai sumber daya air, tanpa memiliki sumber air alami dari sungai maupun pegunungan.
Pola cuaca tahun ini dinilai mulai menyerupai siklus El Niño kuat 2015–2016 yang pernah memicu kekeringan ekstrem, sementara kerentanan Batam diperparah oleh menyusutnya daerah tangkapan air akibat alih fungsi lahan.
Kebutuhan air bersih kota tersebut hanya mengandalkan enam waduk tadah hujan, yaitu Sei Harapan, Nongsa, Sei Ladi, Duriangkang, Tembesi, dan Muka Kuning, yang elevasi airnya kini menurun secara signifikan akibat minimnya curah hujan.
Data organisasi lingkungan Akar Bhumi Indonesia (ABI) mencatat tinggi muka air sejumlah waduk anjlok hingga sekitar 7 meter, dengan Waduk Nongsa mengalami penurunan sekitar 4 cm per hari dan akumulasi penyusutan mencapai 4,5 meter hingga awal Oktober 2026, sehingga diperkirakan hanya mampu bertahan 34 hari tanpa hujan.
Produksi instalasi pengolahan air di Nongsa pun anjlok dari kondisi normal 80–90 liter per detik menjadi hanya 25–30 liter per detik, memicu krisis air bersih yang dirasakan warga selama berbulan-bulan.
Di Kampung Tua Dapur 12, misalnya, sekitar 500 kepala keluarga mengeluhkan minimnya pasokan air lebih dari setahun dan terpaksa membeli air hingga Rp100.000–Rp125.000 per kubik, yang memicu aksi protes warga di depan kawasan ekonomi khusus setempat.
Untuk merespons krisis tersebut, BP Batam mempercepat distribusi melalui interkoneksi dari Waduk Duriangkang, pemasangan mini booster pump, serta mengkaji sumber air baku alternatif dari Lingga, mengingat pembangunan waduk baru membutuhkan waktu sedikitnya tujuh tahun sebelum dapat beroperasi.
Ketahanan infrastruktur air tersebut menjadi krusial mengingat laju pertumbuhan Kota Batam yang terus meningkat dari sisi properti dan industri, termasuk ekspansi sektor data center di kawasan Nongsa yang turut menambah tekanan terhadap kebutuhan air baku.
Batam kini menjadi salah satu kota dengan kawasan industri terbanyak di Indonesia, yakni 25 kawasan dengan luas total 2.002 hektare dan lebih dari 1.300 perusahaan beroperasi di dalamnya. Realisasi investasi di sektor properti dan industri Batam sepanjang 2025 mencapai Rp69,30 triliun, melampaui target sebesar Rp60 triliun. Capaian tersebut turut mendukung pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 6,76%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan tren investasi yang terus menanjak, kesiapan ketersediaan sumber daya air menjadi prasyarat mutlak agar momentum pertumbuhan properti dan industri Batam tidak terganggu oleh keterbatasan sumber daya mendasar di masa mendatang.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/batam-di-tengah-ekspansi-ekonomi-regional-memperkuat-sektor-industri/5279
https://www.kompas.com/
https://batampos.co.id/
https://mongabay.co.id/
https://batamtoday.com/