Ketika Lahan di Singapura Terbatas, Batam Jadi Alternatif Baru?

Friday, 25 September 2026

Keterbatasan lahan industri di Singapura yang semakin akut membuat pelaku usaha mengalihkan pandangan ke seberang selat, tepatnya ke Batam. Data Knight Frank Singapura mencatat sewa kawasan industri di negeri itu telah naik selama 22 kuartal berturut-turut hingga kuartal I 2026.

Proyeksi harga aset industri pun diperkirakan tumbuh 3-5% sepanjang tahun ini, meski ada tekanan geopolitik dari konflik Timur Tengah. Hal tersebut menjadi sinyal jelas bahwa ruang ekspansi di Singapura kian mahal dan terbatas. Fenomena limpahan investasi dari Singapura ke Batam sebenarnya berakar pada fondasi lama.

Fenomena tersebut sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak Oktober 2021, lahir model "twinned bases" antara Singapura dan Indonesia melalui Batamindo Industrial Park (BIP) dan Bintan Industrial Estate (BIE), yang memungkinkan pelaku usaha mengakses lahan untuk ekspansi sekaligus mendiversifikasi rantai pasok tanpa meninggalkan konektivitas ke Singapura.

Momentum tersebut kini menguat. Berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), realisasi investasi Batam pada semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun, tumbuh 27,31% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Singapura tetap menjadi investor asing terbesar dengan kontribusi Rp10,89 triliun atau 36,44% dari total realisasi, didukung oleh 31 kawasan industri aktif di Batam.

Yang menarik, arah investasi mulai bergeser ke pusat data. Kepala BP Batam Amsakar Achmad menegaskan Batam bukan sekadar "tumpahan" investasi Singapura, melainkan growth partner yang menyiapkan lahan, air bersih, dan daya saing tarif listrik untuk investor pusat data dan didukung kabel bawah laut Singapura-Batam di KEK Nongsa.

Bagi pelaku properti, momentum tersebut membuka peluang di luar sekadar lahan industri. Komitmen investasi pusat data terus mengalir, mulai dari Firmus Technologies dan Nvidia senilai proyek 360 megawatt yang ditargetkan beroperasi pada kuartal I 2027, hingga investasi raksasa asal China senilai Rp88 triliun di kawasan Nongsa. Kebutuhan daya untuk sembilan proyek pusat data di Nongsa Digital Park bahkan diproyeksikan melonjak dari 800 MW menjadi 3.000 MW.

Lonjakan ini mendorong permintaan turunan seperti hunian bagi tenaga kerja profesional, ruang perkantoran pendukung, hingga fasilitas logistik di sekitar Nongsa dan Muka Kuning. Hal tersebut merupakan pengulangan pola yang dulu terjadi saat Batamindo pertama kali menarik gelombang investasi manufaktur dari Singapura.

 

Penulis : Roki Abdillah

Sumber :

https://www.edgeprop.sg/

https://www.bloombergtechnoz.com/

https://www.cnbcindonesia.com/

https://rri.co.id/

https://listrikindonesia.com/

https://bpbatam.go.id/

Share:
Back to Blogs