Batam, sebagai kota yang arah perkembangannya diarahkan sebagai kota industri, masih sangat berpotensi untuk terus tumbuh. Meski industri yang berjalan cukup berbeda, baik skala maupun spesialisasi, dengan berbagai kota industri di Indonesia, sebut saja Jabodetabek, Greater Surabaya, Greater Jawa Tengah, yang terus tumbuh dan memperluas submarket industrinya saat ini.
Batam menawarkan kombinasi keunggulan yang kompetitif dari sisi efisiensi biaya, aksesibilitas, dan kemudahan operasional. Data yang dirilis oleh BP Batam menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja, utilitas, dan pengembangan properti di Batam relatif lebih kompetitif dibandingkan dengan Singapura dan Johor, bahkan mampu bersaing dengan pusat manufaktur di Asia, seperti Bangkok dan Hanoi.
Keunggulan ini juga didukung oleh wilayah perkotaan Batam yang relatif kompak, sehingga memungkinkan konektivitas yang efisien antara kawasan industri dan simpul-simpul logistik utama.
Selain itu, perluasan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) dari delapan menjadi 22 pulau semakin memperluas potensi pengembangan kawasan industri dan kegiatan ekonomi terkait.
Dengan berbagai keunggulannya, saat ini Batam tumbuh dengan realisasi investasi yang terus meningkat. Setidaknya beberapa negara telah menanamkan dananya di Batam, di antaranya Singapura, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dsb.
Singapura menanamkan modalnya di Batam untuk beberapa sektor kegiatan, di antaranya manufaktur, energi, logistik dan infrastruktur digital. Sembcorp Industries, Princeton Digital Group, PaxOcean, Sunningdale Tech, di antaranya, beberapa perusahaan tersebut telah beroperasi di Batam.
Sementara itu, Jepang juga merupakan salah satu negara investor di Batam, yang berbasis manufaktur, khususnya elektronik dan otomotif. Panasonic, TDK Electronics dan Nittoh adalah perusahaan Jepang yang beroperasi di Batam saat ini.
Amerika Serikat memiliki operasional di Batam pada industri minyak dan gas lepas pantai, serta teknologi manufaktur. McDermott memiliki fasilitas fabrikasi besar di Batam, khususnya terkait industri migas. Sedangkan Tiongkok, memiliki operasional berbasis komponen manufaktur yang berorientasi ekspor.
Saat ini, Batam tidak lagi hanya menjadi wilayah dengan basis manufaktur berorientasi ekspor. Komposisi investasinya mulai berkembang dan meluas, menuju ekosistem industri yang lebih terintegrasi, mencakup manufaktur berteknologi tinggi, infrastruktur logistik, energi, dan infrastruktur digital.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://www.sembcorp.com/
https://ptsp.bpbatam.go.id/
https://bpbatam.go.id/