Transformasi sektor pariwisata Indonesia terus mengalami perkembangan, salah satu langkah strategis yang menjadi perhatian adalah penguatan peran PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney sebagai Holding BUMN Hospitality. Perubahan ini bukan hanya berkaitan dengan struktur organisasi perusahaan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar dalam membangun ekosistem pariwisata yang lebih terintegrasi, efisien, dan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Peran baru InJourney sebagai Holding BUMN Hospitality merupakan bagian dari transformasi pengelolaan aset perhotelan milik negara yang sebelumnya tersebar di berbagai Badan Usaha Milik Negara. Sebelum adanya integrasi ini, hotel-hotel milik BUMN dikelola secara terpisah dengan sistem operasional, strategi pemasaran, dan standar pelayanan yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat potensi sinergi belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Penandatanganan Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) pada 11 Juni 2026 dan 26 Juni 2026, menjadi tonggak dimulainya konsolidasi 45 hotel milik BUMN ke dalam pengelolaan InJourney Hospitality (PT Hotel Indonesia Natour). Langkah ini menjadi bagian dari agenda transformasi BUMN untuk menyatukan berbagai aset perhotelan negara di bawah satu pengelolaan yang lebih terintegrasi. Dengan proyeksi sekitar 120 hotel yang akan dikelola, InJourney akan menjadi operator hotel kedua terbesar di Indonesia.
Proses konsolidasi dimulai pada 11 Juni 2026 melalui penandatanganan CSPA untuk pengalihan unit bisnis hotel milik InJourney Group kepada InJourney Hospitality. Aset yang dialihkan meliputi The Manohara Hotel, Pullman Mandalika, serta lima hotel bandara yang dikelola oleh IAS Group.
Selanjutnya, pada 26 Juni 2026, InJourney menandatangani CSPA tahap kedua bersama sembilan kelompok BUMN, di antaranya PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), PT Hutama Karya (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), dan PT Nindya Karya, sebagai bagian dari percepatan konsolidasi aset perhotelan BUMN.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyampaikan bahwa melalui Holding BUMN Hospitality, InJourney menargetkan terbentuknya portofolio hotel yang lebih terintegrasi, mengedepankan kekayaan warisan budaya Indonesia sebagai nilai pembeda, sekaligus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan. Transformasi ini merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan industri perhotelan yang semakin dinamis.
Selain meningkatkan efisiensi bisnis, penguatan sektor hospitality juga memberikan dampak positif terhadap pengembangan destinasi wisata nasional. Kehadiran hotel yang dikelola secara profesional akan mendukung pertumbuhan kawasan wisata strategis yang menjadi prioritas pemerintah.
Penguatan peran InJourney sebagai Holding BUMN Hospitality merupakan langkah strategis yang memiliki dampak luas bagi perkembangan industri pariwisata Indonesia. Integrasi berbagai aset hospitality dalam satu ekosistem tidak hanya meningkatkan efisiensi dan kualitas pengelolaan, tetapi juga memperkuat sinergi antarsektor yang selama ini menjadi fondasi utama perjalanan wisata.
Penulis : Miranti Paramita
Sumber :
https://swa.co.id/
https://investor.id/
https://news.detik.com/
https://koran-jakarta.com/