Untuk pertama kalinya dalam sekitar 10 tahun, Hong Kong menggeser Singapura sebagai sumber realisasi investasi asing terbesar di Indonesia pada triwulan II 2026, dengan nilai lebih dari US$5 miliar. Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, sebagian besar dana tersebut berasal dari perusahaan Tiongkok yang menggunakan entitas di Hong Kong.
BKPM mencatat Hong Kong dan Tiongkok secara terpisah. Pada semester I 2026, realisasi investasi Tiongkok sendiri mencapai US$3,9 miliar dan berada di peringkat ketiga setelah Singapura dan Hong Kong. Angka ini merupakan realisasi investasi langsung berdasarkan negara asal dana, bukan nilai komitmen atau nilai proyek.
Arah investasi Tiongkok terlihat dari rincian jangka panjang. Menurut data BKPM untuk 2019 hingga September 2024, investasi Tiongkok sebesar US$34,19 miliar didominasi oleh industri logam dasar (42%), disusul transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi (23%).
Secara lokasi, 67% investasi berada di luar Pulau Jawa, terutama di Sulawesi Tengah (37%) dan Maluku Utara (15%), sementara Jawa Barat menyumbang 21%. Pola ini mengindikasikan peran hilirisasi mineral, yang mendekatkan pabrik pengolahan ke sumber bahan baku.
Hal ini dapat membuka kebutuhan baru terhadap lahan industri, utilitas, pelabuhan, dan fasilitas pendukung di sekitar lokasi pengolahan. Indonesia memiliki beberapa spot wilayah yang dikenal sebagai wilayah pengembangan kawasan industri, termasuk Greater Jakarta.
Knight Frank Indonesia mencatat serapan lahan industri Greater Jakarta pada semester I 2026 sekitar 127,5 ha, dengan pusat data dan industri terkait kendaraan listrik sebagai pendorong utama. Sementara total stok kawasan industri mencapai sekitar 16.020 ha, dengan tingkat penjualan lahan pada 2025 sekitar 64% dari stok yang ada.
Laporan yang sama memperkirakan potensi pasokan lahan baru meluas ke Subang dan Jawa Tengah, sementara Cilegon mulai dilirik oleh sektor kendaraan listrik. Arah investasi Tiongkok pada semester II akan menjadi salah satu penentu permintaan properti industri berikutnya.
Jika arus investasi, termasuk yang masuk melalui Hong Kong, dapat terus bergulir secara konsisten, kebutuhan lahan kemungkinan akan terus mengalir dan semakin condong ke kawasan yang sudah menyiapkan pasokan listrik, akses logistik, dan infrastruktur pendukung. Pengembang dan pengelola kawasan yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut memiliki peluang lebih besar untuk menangkap permintaan itu.
Penulis: Junilla Tristanti
Sumber:
https://kfmap.asia/research/industrial-market-overview-1h-2026/5282
https://setneg.go.id/
https://sultra.antaranews.com/
https://www.cnnindonesia.com/
https://finance.detik.com/